Skip to content

Kisah PC Mati

Welcome back!

Kali ini saya mau bahas pengalaman saya memperbaiki komputer (PC) di rumah yang mati dan debuan. Seperti sudah keharusan kalo di rumah itu wajib ada PC. Baik buat surfing the internet, streaming film, main game, atau sekedar update blog ini. Hehe. PC di rumah mati karena “katanya” motherboardnya mati. Well, itu kata bapak saya yang bahkan tidak mencari tahu betul kenapa PC kami sampai mati lemas tak berdaya itu. And the story begins …

Baut dan kabel berserakan karena saya niatnya mau bongkar-bersihin-pasang itu PC. Setelah semua ready. Voila! Not working. Lalu kembali saya copot komponen-komponen PC sembari berusaha mendeteksi di mana letak kerusakan. Sampai saya dengan superpedenya mengklaim kerusakan ada di Power Supply-nya (PSU). PSU saya yang 430W itu mana sanggup ngangkat CPU(55W)+VGA(400W)=minimal 455W. Mungkin bisa, tapi alhasil jebol juga kan! Esoknya saya langsung berangkat bertualang mencari kitab, elaahh.. mencari PSU. Dazumba dengan daya 450W jadi pilihan. Sebetulnya gak yakin juga karena kapasitas daya yang mepet tapi coba aja deh. Barang siap, semua ready, hit that power button! Voila! Not working.

IMG_0325crop

PSU Dazumba 450W

“330ribu ku…”, pikir saya sambil merenung merana. WHY??!! Selain OK Google, mungkin seharusnya ada Thanks Google. Dia menggiring saya ke satu forum yang mana memberi info kemungkinan PC mati bisa karena kabel front panel yang rusak. Maka tanpa pikir panjang (karena udah desperate ya), langsung saya set-up saja seperti yang disarankan:

IMG_0324crop

Kemungkinan kabel Power-nya rusak, pasang kabel Reset ke slot Power

Voila! PC saya hidup kembali. Namun kendala berikutnya muncul: layar saya tidak menampilkan gambar (no signal). Saya bongkar pasang kembali untuk mencari solusi, dan ternyata layar saya bisa menampilkan gambar dengan posisi tanpa VGA. Logika saya yang seadanya ini langsung menyimpulkan: oh, VGA-nya rusak. And the story continues… 

Kabel front panel sebetulnya murah, hanya Rp 17-18ribu saja. Namun susah mencari kabel ini, kecuali bersedia sekalian membeli case PC baru. Mungkin next time saja saya beli case PC karena toh ya PC ini sekarang bisa hidup lagi. Sekarang masalah adalah  VGA. Tanpa VGA mau main game apa nanti? Solitaire?!

IMG_0323resize

Gigabyte GTX 1050

GTX 1050-nya Gigabyte menjadi pilihan saya untuk mengganti VGA yang sebelumnya. “Mahal sedikit, tapi sekalian yang bagus”, kata pikiran nakal saya. Setelah barang datang (pesan online), dengan hati riang saya bongkar lagi PC saya itu. Kali ini saya akan bisa main game yang grafisnya oke, di setting-an high pula. Yihiiii. Tapi, sekali lagi hati saya harus hancur karena gambar tidak tampil di layar. WHY??!!

“Baru beli masa rusak? Ahh, jangan-jangan dari kemarin ini motherboard-nya yang bikin gambarnya gak ada”. Berarti apa?? Beli motherboard! Hahahaa. Istri saya bisa ngamuk nih kalo sampai tahu. Cuma demi kesenangan, why not?! Bergegas saya langsung tancap ke toko PC, memilih Gigabyte H81-S2PH, dan pulang dengan hati berharap, dan untuk kesekian kalinya hati saya harus remuk. Tetap NOT WORKING!

Bukan VGA-nya, bukan motherboard-nya. Terus apa? PSU baru ganti juga. Masa Harddisk?! Masa RAM?! Kembali Mr Google memberi petuah untuk update driver motherboard dan VGA, tapi tetap gagal. Hampir seminggu penuh saya stres ‘kenapa ini gak bisa’, stres ‘gimana kalo istri sampai tahu’, stres ‘duh, duit…’

Setelah cukup lama, saya baru tersadar kabel layar saya input ke VGA motherboard. ‘Coba langsung ke GTX-nya kali ya? Tapi slot di GTX cuma ada DVI-D, HDMI, dan DP. Coba DVI-D!’ Ternyata DVI memiliki banyak variasi sehingga saya salah beli adaptor. Akhirnya saya beli saja adaptor HDMI agar sederhana. Tanpa pikir panjang, karena memang perjalanan sudah panjang, saya input kabel dari layar ke GTX, dan VOILA! It works fine. Gambar di layar kini lantjar djaja.

Senangnya PC saya kini siap digunakan. Walaupun banyak biaya keluar, tapi alhasil PC berhasil diperbaiki dan banyak pula pelajaran yang didapat karena jadi banyak belajar bareng Mbah Google. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembacanya.

FIN

Advertisements

Beli Sepiker

Welcome back!

Kali ini saya mau bahas sedikit tentang audio mobil. Mobil biasanya punya speaker pintu kiri-kanan. Speaker bawaan (pabrikan) mobil sendiri seringkali kurang memenuhi hasrat penikmat musik akan output audio yang berkualitas. Maka dari itu banyak bengkel-bengkel variasi yang menawarkan upgrade sistem audio mobil.

Saya memang bukan ahli audio. Tapi sebagai orang awam, saya cukup paham mana yang namanya crystal clear dan burem. Pertama kali saya upgrade audio mobil, saya langsung paham kenapa speaker pabrikan saja tidak cukup: it sounds suck, really. Dulu saya pikir jika mau audio mobil bagus, saya harus ganti HU(headunit/tape). Ternyata bukan hanya itu. Oh, mungkin harus ganti speaker merk ternama seperti Pioneer atau Kenwood. Ternyata bukan hanya itu. Tapi setelah tambah power dan woofer barulah saya terkesima. ‘Ah, ini dia!’

Modal awal saya 2 juta untuk HU JVC second, speaker coaxial Pioneer, power dan woofer Physiks. Dan itu saya pasang di Panther box buat kirim-kirim barang. Gila deh, gaya(baca:alay) banget masuk pasar jedam-jedum. Hahahaa. Tak lama berselang, saya dikaruniai mobil pribadi oleh Yang Maha Kuasa. Tak pikir panjang, saya memutuskan audio mobil harus segera saya ganti demi betah nongkrong dalam mobil.

Merk-merk ternama langsung mampir ke otak saya. Pioneer, Kenwood, JL Audio, Infinity, JBL, Alpine dkk. Berhubung saya pernah belajar rekaman, saya paham betul JBL punya reputasi baik dalam dunia audio. JBL by Harman. Yes, Pak Harman. Harman Internasional sendiri punya subsdiary yang cukup terkenal di kancah peralatan audio. JBL salah satunya. Infinity itu juga milik Mas Harman. Ada lagi: AKG bagi yang suka rekaman pasti familiar sama merk ini. Maka saya tidak ragu untuk memilih JBL sebagai calon peramai mobil saya. Dan lagi JBL dikategorikan ke dalam SQ-Sound Quality dalam kelas audio mobil. Jadi dia mampu menghasilkan suara yang jelas dan akurat (crystal clear). Namun ini berarti suara yang dihasilkan tidak akan se-ngebass speaker-speaker lain yang masuk kategori SPL dan SQL. SQ itu mentingin kejernihan suara. SPL itu mentingin dentuman bass. SQL itu cocok untuk orang yang bingungan antara mau pilih suara jernih atau dentuman bass. hehehe maap.

spd_20161130181544_b

Subwoofer JBL GT5-12

Yah, namanya modal belum gede banget, saya pilih paketan JBL di Gading AutoSpeed Yogyakarta. Di harga 4 juta, saya dapat power seri GX (4 channel)+woofer GT5 12 inci sekalian box-nya+speaker split GT5, dan itu semua satu brand. Agak berat juga sih waktu denger ’empat juta,mas’. Hiks. Tapi begitu cek sound, rolling door bengkel sampe bergetar. Suara empuk mengalun dari dalam mobil saya, dan saya tahu ini yang saya mau. Betul kata review-review di internet. JBL sebagai SQ sangat mumpuni untuk urusan kejernihan reproduksi suara. Bassnya mungkin bisa dikatakan di luar ekspektasi saya yang ‘harus keras nih buat musik disko’, tapi walaupun bassnya tidak dominan, saya rasa justru sangat match dengan keseluruhan speaker. Dan lagi, woofernya empuk puk tapi gak nonjok. Memang, ada harga ada kualitas ya. Senang rasanya tidak salah pilih. Saran saya: jangan ragu untuk produk ini. Harga pantas, hati puas. Ahseeekkk!!

Demi Si ‘Dia’

Mari bicara sedikit tentang romansa. Tak terasa 3 tahun berlalu tanpa ada si ‘dia’ yang spesial di sisi saya. Rindu rasanya merasakan kembali sensasi memiliki seorang kekasih. Dan akhirnya kini … tetap sendiri. Hahahaa!

Saya bukannya tidak berusaha. PDKT tetap saya lakukan, dan bahkan sekaligus dengan banyak wanita. Tapi sayang, gadis-gadis belia ini bukan ‘dia’ yang saya harapkan. Saya gak sreg! Seakan ada sebuah standar yang harus terpenuhi, dan mereka ada di luar itu. Menurunkan standar memang bukan sesuatu yang saya sukai sebagai sebuah approach memilih wanita. Tapi pun ini harus saya lakukan demi punya teman jalan. Apa mungkin saya-nya saja yang gak laku, ya? Haha!

Bukannya mau sombong, SUMPAH demi apa saya gak punya maksud untuk pamer. Listen this:

Ketika saya sedang asik bercengkrama (oke, bercumbu) dengan salah satu gadis, ada satu kalimat yang sampai sekarang menjadi momok bagi saya. Entah apa yang sedang kami lakukan saat itu, yang jelas saya ingat sepenggal pembicaraan kami:

Gadis: Gak mauu…!

Saya: Lho, kenapa siih?!

Gadis: Abis.. Kamu playboy! Aku gak percaya.

Saya: Hah?! Jadi kamu gak percaya sama aku?

Gadis: Yaah.. Percaya gak percaya. Hmm.. Bingung ah. Pokoknya jangan!

Menurut dia saya PLAYBOY, dan menurut saya saya bahkan tidak memiliki kriteria untuk disebut seperti itu. Some boys might think it’s cool, but it’s not for me. Well, I thought it was, but something changed my mind. Awalnya terasa keren. Apalagi di depan teman-teman bisa terlihat macho karena sisi charming saya mampu menggaet gadis-gadis ini.

But still I have no girlfriend.  And it feels empty.

Later on, saya cari tahu apa yang membuat saya tidak juga memiliki kekasih hati. Mereka mendekat, saya merapat, namun tanpa hati yang utuh alias setengah hati. Kenapa? Karena bukan tipe seperti mereka yang saya mau. Tapi demi teman jalan…

Alhasil, berkat respon yang mereka pikir adalah sinyal dari saya, mereka nempel. Nghubungi saya tiap hari, bercanda, jalan. Dan ketahuilah most of them sudah punya pacar bahkan suami. Holy Hell. Jadi apakah saya hanya pelarian?! Kok jadi terbalik gini!?

Setiap ada yang benar-benar menarik hati, benar-benar ‘tipe gue banget!’, doi pasti gak tertarik kepada saya. Berkali-kali saya berhadapan dengan hal ini. Jelas saya melakukan approach yang sama dengan gadis lainnya. But these girls seem not interested in me AT ALL. For a while I think “Why? Where did I go wrong?”. Sampai di suatu momen saya teringat kata ‘playboy’ itu lagi. Apa benar ini yang salah? Apa mereka takut?

girl-rejecting-proposalfb

Ditolak, bro!

Masih penasaran, saya melakukan survey kecil-kecilan demi mendapat info. Saya hubungi gadis-gadis yang pernah dekat bahkan juga yang saya gagal kencani. “Aku mau tanya, tapi kamu langsung jawab jujur ya. Menurutmu emangnya aku keliatan kayak playboy?”

Dan  semua menjawab “Iya”. wtf

Okay, say that I now understand that girls see me that way. So what’s with it?!

Asik loh bisa ngucapin selamat pagi sama si A, bercandaan di waktu kerja sama si B, jalan-jalan jajan sembarangan malam-malam sama si C, telfonan berjam-jam tengah malam sama si D. Tapi tetap saja ada yang kosong di lubuk hati ini, halah! Kenapa yang sreg malah nempel, yang ‘my type banget’ malah menyingkir. So that’s the question.

Anggaplah namanya Meta.. Well namanya memang Meta hahahaa (Mot, sori kalo lu sampe baca ini). Meta ini teman di tempat kerja yang lama, tapi kami jarang banget tuh dulu yang namanya interaksi. Dia cantik, face-nya lucu (I got to say that, sorry). Tipe gue banget. Pendek-manis-berisi.

Suatu saat saya mencoba peruntungan saya mendekati Meta walaupun akhirnya tak juga saya berhasil ambil hatinya. Walaupun saya udah ’embuh-lah’ sama dia, tapi ada suatu pelajaran yang masih saya simpan hingga hari ini.

Di saat saya sudah tak tahu harus bagaimana untuk meluluhkan hatinya, saya masa bodoh saja cerita tentang perjalanan asmara saya hingga survey ala kadarnya yang saya lakukan.

Meta: Hahaa. Kamu seperti temanku. Kebanyakan arah. Dekat sama cewek, belum jadi malah udah ditinggal. Gimana mau fokus kalo seperti itu? Lagi pula kamu ng-treat cewek terlalu pukul rata. Masa semua cewek di-spesial-in? Jelas pada GR lah. Sekarang kamu dianggap php malah gak terima.

Makes sense! Kalau boleh membela diri, saya hanya mencoba bersikap friendly, tapi malah jadi seperti ini. Yang jelas, sudah banyak cara yang saya lakukan demi mendapatkan si ‘dia’ yang saya idam-idamkan dan selalu gagal. Mungkin dengan sedikit kontrol diri yang lebih baik dan gak over genit, saya akan temukan dan mampu dapatkannya. Demi si ‘dia’ saya pasti bisa.

Aahh.. Saya rindu berbagi cinta, dicinta, dan bercinta. Whoops!!

 

 

OFFICE POLITICS!

Politik kantor memang tidak akan pernah sirna dari hidup bekerja. Gap-gap-an sepertinya lumrah. Kelompok ini dan itu bersaing secara gerilya untuk dapat kuasa. Sebenarnya bukan kuasa sih, tapi sekedar privilege untuk meraih kemudahan kerja alias biar bisa seenaknya.

Di tempat saya bekerja juga sama saja, dan saya sudah dari jauh-jauh hari observasi, bersiap join kubu yang saya anggap benar. Men, lu gak akan mau berakhir di pojokan sana dengan sekelompok orang-orang payah, menggerutu, berharap yang macam-macam tapi gak ada aksi. Boro-boro solusi. Menuntut ini itu dalam hati. Berharap pimpinannya paham. Lu pikir pak bos-lu itu ahli ramal tukang baca pikiran?! Duh, repot deh kalo ngobrol sama tim yang bawaannya negatif mulu.

Tapi eh tapi, saya juga punya prinsip. Sejauh apa yang mereka lakukan tidak menyenggol saya dan terlihat baik-baik saja ya sudah. Tak perlu pula berasumsi. Asumsi itu tidak baik dan biasanya tidak benar.

“Welcome to the jungle” kata kakak saya saat saya diterima bekerja. Hell yeah, IT IS a jungle. Walaupun begitu, saya tetap mencoba untuk blending dengan berbagai suku ras yang ada dalam kantor. Dulu rule number one saya: “trust no one”, sekarang jadi “tell nothing”. Kantor bukan tempat yang tepat untuk sharing opini tentang seseorang alias nggosip. It will stab you. Jadi yah saya menghindari ‘nyacat’-in orang. Tapi ya saya juga bukan orang yang bersih. Saya juga lihat-lihat orang yang saya ajak ngobrol bisa saya manfaatin untuk apa kedepannya. Licik? Memang. Kata orang: berbuatlah baik agar kelak nanti saat kau susah kau dibantu. Apa bedanya? Bahasanya lebih halus. Apa samanya? Sama-sama ada maunya.

Di kantor saya yang ber-kubu itu, saya beberapa kali dikatai ‘bolo’nya si ini lah si anu lah. BODO! Gue makan gratis karena si A, gue tetep up-to-date karena si B, dan kerjaan gue lancar karena elu! Jadi yaah santai sajalah. Masalah mau temenan sama siapa ya bukan masalah. Mau ada yang sirik juga bukan masalah. Masalahnya adalah: tanpa diberitahu, saya terlalu bodoh untuk mengerti kalo ada yang sirik. Hahahaa. Hidup gue plong 

Nyolong di Google

Nyolong di Google

Tentang Sendirian

It’s like the world hates me, or …

Seperti mereka ingin menjauh. Tapi, hei, bukankah aku yang selalu menolak mereka?

Mereka pasti punya intensi lain. Aku takut. Takut akan bayang-bayang kelak aku dipermainkan. Takut memikirkan hal buruk yang mungkin saja mereka rencanakan.

Tapi, hei, asumsiku pun tak lebih baik dari kebanyakan orang. Aku curiga most of the time malahan. Kabar-kabar burung juga sering tertelan mentah. Mungkin semuanya memang mentah jika aku tak punya bukti nyata. Mungkin aku harus coba untuk berani terima ajakan mereka: untuk melakukan hal yang tidak aku suka? Apa iya aku tidak akan suka? Apa hanya karena aku sedang tak ingin? Atau karena hal itu belum pernah kulakukan? Apa benar karena aku punya standar yang kusamarkan sebagai ‘prinsip’?

Saat aku bosan, saat aku lirik lagi sosial media, saat merasa sendiri, aku pikir ‘kenapa aku di sini doing nothing? Kenapa aku iri dengan kegembiraan kebersamaan orang lain? Toh aku juga yang sering nolak ajakan’

Memang untuk mencoba memulai itu susah. Apapun itu. Tak terkecuali untuk perlahan mencoba percaya. Entah apa yang telah terjadi sehingga kepercayaan itu adalah hal yang susah kuberikan pada orang lain. Mungkin sebaiknya aku diam saja di sini sendiri, atau keluar sana dengan pasrah dan masa bodoh dan lihat apa yang akan terjadi.

Sekilas Keseharian Marketing

“Daia pk, goreng sate, softergent 900″

“Sementara teritori X pakai retail dulu. Di TO bulan depan aja abis setokan.”

Nama-nama ini akan rutin keluar masuk telinga ketika berada di dunia pemasaran Wings. Saya yang awalnya hanya clingak-clinguk “pada ngomong apa sih?” kini makin terbiasa dengan istilah-istilah tersebut.

soklin_softergent_pink_900g-_1

SoKlin Softergent 900g

Saya mendekati akhir bulan ke-6 masa training saya di PT Wings Surya. Maret nanti, kontrak akan diperpanjang dan saya mulai menjadi karyawan kontrak dengan penempatan yang sudah jelas (harusnya). Ya, sudah hampir 6 bulan saya berpindah-pindah dari kota satu ke kota lainnya. Hei, jangan bayangkan kota sebesar Jogja atau Semarang. Ditempatkan di kota sebangsa Wonogiri saja sudah saya anggap “kota banget”, hahahaa. Seringkali kota kecil. Kota di mana swalayan lokal jadi pusat keramaian. Akan ada banyak nama baru dan tempat yang tak pernah sebelumnya terlintas di benak untuk dikunjungi muncul di hadapan. Kalau dulu mainnya ke Mall dan XXI, sekarang ke swalayan dan alun-alun. Luar biasa!

Bayangan bekerja di bagian pemasaran memang tidak seperti yang saya dulu bayangkan. Lapangan seolah jadi medan perang. Situasi akan sangat meminta kita tetap tampil prima di depan pelanggan. Orang-orang lapangan ini adalah delegasi. Ada citra yang harus tetap harum terbawa kemanapun pembawanya pergi. Pelayanan dan kepercayaan pelanggan juga menjadi salah satu kunci keberhasilan pemasaran. Di balik itu; sinar matahari, jalanan macet, jalanan berlubang, keramaian pasar dan bau sampah pun harus dilalui demi mencari orderan, dan itu pun dalam rapinya kemeja seragam yang harus tetap rapi apapun yang terjadi. Berfungsi ganda sebagai kolektor, sales selalu membawa uang puluhan hingga ratusan juta yang bukan miliknya. Itupun sangat beresiko digondol maling. Kadang saya merasa kasihan pada para sales yang nantinya juga akan saya pimpin. “Pak Dewa, aku gak usah dikasihani dong. Aku yang penting disemangatin aja. Bapak juga semangat” kata satu sales senior, dan ini seringkali saya ingat sebagai acuan pribadi saya bekerja.

Setiap perusahaan pasti memiliki sistim order dan pembayaran yang berbeda. Riwueh juga loh; Sales visitinput order melalui Android-Upload ke database saat kembali ke kantor-Orderan di-crosscheck oleh supervisor untuk di-approve-Diterima bagian ekspedisi dan billing untuk perencanaan muatan dan pencetakan surat jalan, surat perintah keluar barang, kitir picking list per-zona untuk kru gudang(belum lagi gudangnya terbagi atas food dan non-food) dan faktur tagihan untuk nantinya dibawa oleh sales ke lapangan. Belum lagi tugas admin marketing, belum lagi tugas admin promosi. Ribet! Walaupun tiap bagian memiliki tugasnya masing-masing, saya merasa perlu untuk juga mengerti apa yang mereka kerjakan agar bisa saling bantu toh kita kerja di bawah satu atap.

Setelah sejauh ini, semua terlihat semakin jelas. Saya semakin terbiasa setiap harinya. Ingin sekali rasanya menjadi mahir, baik itu di kantor maupun lapangan karena dengan itu baru saya merasa boleh melabeli diri saya seorang supervisor.

O-Je-Te Singkat

Saya tak pernah menyangka saya akan sampai di kota kecil bernama Blora. Di bawah naungan PT. Wings Surya, saya yang lulusan sastra ini bergabung dalam bagian marketing. Sangat nyeleneh, bukan? Itulah anak sastra: nyeleneh.

Saya berkesempatan menjalani OJT di Blora selama 2 bulan. Well, awalnya saya tidak tahu berapa lama saya akan berada di kota ini karena menurut desas-desus trainee pendahulu OJT bisa saja molor hingga berbulan-bulan sebelum di-rolling ke daerah lain.

“Huh, mau apa aku di sini?” pikir saya di awal masa training. Ketahuilah Blora ini tidak cukup luas bagi untuk dikelilingi. Seingat saya kafenya hanya ada 2. Ada sih 1 lagi, tapi berlokasi di hotel yang bintang … OK-lah terserah itu hotel bintang berapa. Kalo kata mentor saya sih “Blora ini cuma 1 jalan lurus, di tengahnya ada alun-alun, terus ya udah. Segitu aja”. Alun-alunnya mini tapi bersih dan rapi. Jujur saya agak terkesima, sedikit, hehe. Banknya sedikit. Mallnya nihil (ada Luwes sih, tapi lebih seperti plaza). Tapi belanja bulanan bisa hematlah di swalayan-swalayan lokalnya. Makan juga murah walaupun sego pecel+tempe everyday.

PT. CitraNiaga KaryaLestari, kantor distribusi Wings. Di tempat ini saya berlabuh, belajar merangkak mengenal perusahaan dan prosedur kerjanya. Saya yang tidak ahli berbahasa Jawa ini bisa dikata struggling untuk berkomunikasi. Saya, jujur saja, tidak enak ketika orang-orang sampai switching ke bahasa Indonesia demi bisa mengajak saya mengobrol. Di kantor ini saya belajar bagaimana marketing sebuah perusahaan consumer goods bekerja. Saya ditugaskan untuk Join Visit bersama salah satu sales menuju pasar-pasar tradisional di daerah Cepu yang kira-kira setengah jam ke arah timur dari Blora. Sempat juga saya masuk hutan untuk menuju desa-desa. Seru! Ini rutinitas 2 minggu pertama demi familiarnya saya dengan kerja sales. Selain itu saya sempat juga ikut bersama supervisor dari berbagai divisi untuk melihat pekerjaannya masing-masing. Hal-hal ini sangat baru bagi saya dan menyenangkan.

Alun-alun Kota Blora, salah satu tempat ‘nongkrong’ saat malam tiba.

 

Jujur saya mungkin bukan seorang trainee yang sempurna. Saya masih suka bersantai dan menggoda wanita, haha. Saya sering berpikir mungkin itu bisa membantu saya menjadi orang lapangan yang berhasil. Tidak mungkin saya di lapangan bertingkah kaku dan serba kesusu. Meskipun itu salah satu tuntutan orang lapangan, saya juga harus bisa mengolah data. Bersama satu-satunya admin sales di kantor, saya belajar ‘main’ Excel. Admin yang satu ini pokok’e istimewa. Juteknya setengah mampus. Kalo sampai lupa sedikit aja pasti deh langsung kena sindir. Gualaaak! Tapi makin lama makin sering bercanda sih. Mulai jinak sendiri 😀

Seiring berjalannya waktu, saya semakin bisa berbaur dengan lingkungan dan beradaptasi. Mulai kerasan-lah istilahnya. Sampai suatu hari saya dipanggil ke Jogja untuk presentasi hasil OJT. Di Jogja sempat terpikir jika saya akan dipindah dari Blora. Saya sudah mulai suka kota itu, dan benar saja setelah presentasi usai saya dikabarkan untuk pindah penempatan OJT dari Blora ke Jogja. “Aw, saya harus senang kembali ke kota besar atau sedih berpisah dengan apa yang baru saja saya sukai?”

Saya punya 2 minggu sebelum pindah. Saya puaskan diri saya di kantor, dan di hari terakhir berat rasanya untuk berangkat kembali ke Jogja. 4,5 jam di atas motor menuju Jogja memberi saya waktu untuk bersyukur atas semua yang saya lalui di kota kecil itu. Saya tidak mau bersedih meninggalkannya, saya harus move on. Pengalaman di Blora tak’kan terganti, dan mudah-mudahan saya berkesempatan kembali karena ada sepenggal cerita yang ingin saya alami lagi.

Batal Bersayap

Ini adalah salah satu pengalaman saya melamar kerja. Wings Group.

Dramatic Ilustration

Dramatic Illustration (Sumber: http://www.pinterest.com)

Saat itu saya sedang sibuk stalking website kampus dan berbuah informasi lowongan di Wings. All Major selalu jadi kualifikasi yang saya incar. Beruntung saat itu Sales Supervisor sedang dibutuhkan. Sempat bingung juga karena di website kampus tetangga juga ada informasi yang sama tetapi nama perusahaannya agak berbeda sedikit: PT. Sayap Mas Utama dan PT. Wings Surya (saya melamar yang ini). Sesaat sebelum tes tulis dilaksanakan, staff HRD; Pak Niko dan Pak Pungki, menjelaskan bahwa Wings Group secara garis besar dibagi atas bagian Indonesia Barat (Sayap Mas Utama – Jakarta) dan Indonesia Timur (Wings Surya – Surabaya).

Kalau saya boleh berkomentar, Pak Niko terlihat agak melambai dan Pak Pungki terlihat sedikit pendiam. Tes yang dilaksanakan adalah tes tulis biasa seperti hitungan dasar, bangun ruang, jarak, dsb. Lalu ada tes menggambar orang dan tes wartegg (bau-baunya kayak psikotes (yes, namanya wartegg, haha)). Tes kira – kira memakan 4 jam. Bersyukur nama saya ada di list peserta yang lolos. Setelah istirahat 1 jam, kami kembali lagi ke tempat tes untuk interview dengan HRD. Saya yang sedang merokok spontan kaget karena saya yang pertama dipanggil. Saya pikir bau asap rokok akan membuat peng-interview tidak nyaman. Tanpa sempat deg-degan, “Hajar aja,” pikir saya. Pak Niko kali itu yang bertugas mewawancara. Dia tidak melambai seperti yang saya kira. Justru orangnya asik. Pertanyaannya juga cukup masuk akal. Dia tanya cerita-cerita berkesan seputar pengalaman pribadi. Nah, pengalaman itu lalu dihubungkan kaitannya ke posisi yang saya lamar. Menurut Pak Niko, dan saya sendiri, pengalaman saya tak ada sangkut pautnya dengan pemasaran. Hal yang paling sinkron cuma pengalaman saya menyediakan jasa rekaman. Itu saja. Yang saya yakinkan ke bapak itu adalah bahwa saya siap salah dan belajar dari kesalahan itu, dan berkembang demi mampunya saya mengerjakan tugas.

1 jam berlalu. Pak Niko mulai mengecek jam tangannya. “Wah, sudah kelamaan nih,” ucapnya. Saya yang mulai tidak enak hati mulai bergegas mengambil tas, berniat pamit. Tak disangka saya ditahan. Bapak satu itu masih punya beberapa cerita yang harus diceritakan seperti produk baru Wings yang akan segera launching, kisah divisi HRD-nya yang sedang banyak proyek ke NTT, cerita seorang sales handal di Wings, dsb. 1,5 jam berlalu. Wawancara-pun berakhir. Peserta lain menatap saya penuh tanya dan keki saking lamanya. 2 orang langsung masuk berbarengan demi menghemat waktu. Segera saya merokok, bernafas kembali sembari menjawab pertanyaan kawan-kawan dadakan seputar pertanyaan interview. 10 menit berlalu. 2 orang tadi keluar. Saya hanya mampu menatap mereka penuh tanya. “So fast,” pikir saya.

Janji ‘HRD akan menghubungi dalam 2-3 minggu’ milik Wings bisa dipercaya. Tak sampai 2 minggu, ada telfon bernomor depan (031) masuk. SURABAYA! Pak Pungki mengabari bahwa saya lolos wawancara dan dipersilahkan untuk interview user di kantor district mereka di Jawa Tengah. Tempatnya, mmm… oke kayak gudang. Memang gudang, dan tidak persis di pinggir jalan, dan tidak ber-plang. Alhasil tersesatlah saya saat survey tempat 2 hari sebelum hari-H.

Ntah yang mana yang namanya Pak Johan yang akan meng-interview saya itu. Sambil menunggu, saya sempatkan berbincang dengan peserta lain. Saat itu lah sesosok pria umur 50-an keluar dari ruang interview. Dengan memegang handphone, dia melewati kami lalu tersenyum berkata “tunggu dulu ya, mas.” Lalu dia kembali berbicara ke handphone-nya, berkata dengan volume maksimal dan mode bass-boost: “Ini win-win untuk saya. Ya, itu masalah lu. Lu kan punya tanggung jawab. Saya gak peduli maunya apa. Stick sama prosedur dong (…) “. Galak! Semua staff yang sedang bekerja di sana mendadak sibuk bekerja sambil menunduk, sesekali mengintip bapak itu. Wow. “Itu bukan Pak Johan, kan?!” Itu Pak Johan.

Nama saya dipanggil. Pak Johan sudah menunggu di ruangan bersama dengan Pak Heri (ntah siapa dia). Pak Johan berbicara sangat pelan dan biasanya diakhiri dengan ‘betul, bukan?!’. Dia sempat mengingatkan saya untuk tidak terburu menjawab. “Terlalu terburu-buru itu tidak baik.” Saya perlu mengatakan bahwa dia memiliki kontak mata yang kuat, dan saya tumben sekali bertemu orang seperti ini. Saya tidak pernah merasa kontak mata yang imbang sama kuat begini. Di sela-sela jeda omongannya yang belum habis, dia akan melihat mata saya seolah berkata “show me how tough you are, kid,” dan saya tidak pernah menyerah memandang matanya sampai dia yang mengakhiri kontak. Sekilas rasanya dia menyukai saya.

Akhirnya tibalah obrolan yang paling penting: GAJI. Gaji yang ditawarkan sangat jauh dari ekspektasi saya. Memang saya akan mendapat adjustment gaji setelah melewati masa training tetapi rasanya tidak sepadan dengan pekerjaan yang akan saya lakukan. Belum lagi nantinya saya akan dilempar ke berbagai tempat. Saya hanya bisa menunduk.

Mengangkat kepala dan berkata “gak oke, Pak. Saya gak bisa terima” itu perlu keberanian ekstra. Saya perlu membuat keputusan berat karena ntah kenapa saya yakin Bapak Johan ini mampu mengembangkan saya secara maksimal. Dia sangat bisa menjadi leader yang menjadi role model untuk saya. Walaupun baru bertemu sekali itu tapi ntahlah, saya juga heran. Sebelum beranjak pergi saya berterimakasih atas kesempatannya dan menyempatkan diri menyampaikan apa yang saya lihat dari dia sesaat sebelum masuk ruang interview:

(…) kamu sudah bagus melakukan prosedur, kita sudah berusaha. Dia yang keliru. Pastikan pihak kita dan pihak mereka sama-sama mendapat keuntungan.” Dia menegur, memotivasi, dan membela staff-nya. That’s what important in leading, I guess.

“Gimana? Yakin gak berminat bergabung?”

FIN

a Not-So-Secret Letter to Mr. Right

Let me say this: I can’t even text it to you personally.

You’ve been a good person. You are a good friend. People keep looking up to you. I always know you’d be an amazing figure of leader that I respect.

IDK. It feels wrong to write this down. But believe me, it’s no trick. I’d like to thank you for taking care of her.

You know, I remember moments when I couldn’t even help her with her crying. Yes, I was always there for her but it’s like i could bring no more joy. No more joy for us. And one day I knew she’s gonna leave me. I kept thinking it was my fault the whole time, but time only heals everything. It helps me ease the pain of our separation. I barely remember our last kiss too, hahaa. Seriously, it was really hard for me to understand why she had to leave. I figured it out, though. It’s just … we just can’t be together any longer.

What i really want to say is that I’m happy you’re taking care of her. To be honest, early moments of your togetherness killed me. I thought “you’re our friend, and she is … mine. You guys can’t. It’s just not fair” and so on you name the curses. I know now, you’ve brought back the joy, you’ve been making her smile, you’re taking her somewhere exciting I perhaps would never be at. I see you take care of her very well, and I appreciate it. Thank you so much.

I hope you read it but tell me nothing because I’m a guy with pride. So stupid.

Compressor: Seberapa Lama

Sebagai bukan-pemula-bukan-expert dalam audio engineering, saya punya tips untuk teman-teman pemula yang juga tertarik memahami lebih dalam tentang teknis penggunaan alat.
Compressor. ‘Senjata’ yang sangat umum digunakan ini memang cukup membingungkan. Saya tidak akan membahas tentang apa itu ratio/attack/release dsb., tapi lebih ke seberapa banyak.

Sumber: Sound On Sound

Sumber: Sound On Sound

Pertama kali, dan sampai beberapa hari lalu, saya benar-benar tak bisa mengira-ngira seberapa cepat saya harus menge-set waktu attack dan release. Compressor bawaan DAW saya memang fleksibel, tetapi justru ini membuat saya pusing karena tak tahu panduan untuk mengeset waktu yang tepat. Banyak artikel yang saya baca menyarankan reduksi harus kembali 0 sebelum mereduksi ‘peak’ selanjutnya (kalo memang tujuannya adalah mengkompres peak). ‘Fast attack’, ‘slow release’ itu seberapa?! Serius saya bingung jika dihadapkan ke istilah-istilah itu. Untuk release ada yang nyaranin 100 ms, 150 ms. Untuk attack ada yang bilang 10 ms, 5 ms, 1 ms, bahkan 0,1 ms. Gila aja! Jadi yang mana?
Lalu terlintaslah pikiran untuk melihat compressor dalam bentuk hardware. Ya, outboard processor. Saya google lah, teman-teman juga mungkin bisa lihat nanti setelah dari sini. Dari gambar-gambar itu saya lihat konfigurasi untuk attack dan release. Lihat knob-knob itu. Dari arah jam 12 ke kiri berarti cepat, ke kanan berarti lambat. Mungkin itu cara ‘bodoh’nya ya. Berkat itu saya tahu sekarang settingan lambat release bisa mencapai hingga 2 detik. Saya jadi tidak tanggung-tanggung mengkompres sinyal bass saya sampai 600 ms agar selalu tereduksi setiap saat (musik modern katanya gitu: bass-nya gak terlalu berdinamika).
Begitulah kira-kira tipsnya. Mudah-mudah berguna ya.