Skip to content

Batal Bersayap

Ini adalah salah satu pengalaman saya melamar kerja. Wings Group.

Dramatic Ilustration

Dramatic Illustration (Sumber: http://www.pinterest.com)

Saat itu saya sedang sibuk stalking website kampus dan berbuah informasi lowongan di Wings. All Major selalu jadi kualifikasi yang saya incar. Beruntung saat itu Sales Supervisor sedang dibutuhkan. Sempat bingung juga karena di website kampus tetangga juga ada informasi yang sama tetapi nama perusahaannya agak berbeda sedikit: PT. Sayap Mas Utama dan PT. Wings Surya (saya melamar yang ini). Sesaat sebelum tes tulis dilaksanakan, staff HRD; Pak Niko dan Pak Pungki, menjelaskan bahwa Wings Group secara garis besar dibagi atas bagian Indonesia Barat (Sayap Mas Utama – Jakarta) dan Indonesia Timur (Wings Surya – Surabaya).

Kalau saya boleh berkomentar, Pak Niko terlihat agak melambai dan Pak Pungki terlihat sedikit pendiam. Tes yang dilaksanakan adalah tes tulis biasa seperti hitungan dasar, bangun ruang, jarak, dsb. Lalu ada tes menggambar orang dan tes wartegg (bau-baunya kayak psikotes (yes, namanya wartegg, haha)). Tes kira – kira memakan 4 jam. Bersyukur nama saya ada di list peserta yang lolos. Setelah istirahat 1 jam, kami kembali lagi ke tempat tes untuk interview dengan HRD. Saya yang sedang merokok spontan kaget karena saya yang pertama dipanggil. Saya pikir bau asap rokok akan membuat peng-interview tidak nyaman. Tanpa sempat deg-degan, “Hajar aja,” pikir saya. Pak Niko kali itu yang bertugas mewawancara. Dia tidak melambai seperti yang saya kira. Justru orangnya asik. Pertanyaannya juga cukup masuk akal. Dia tanya cerita-cerita berkesan seputar pengalaman pribadi. Nah, pengalaman itu lalu dihubungkan kaitannya ke posisi yang saya lamar. Menurut Pak Niko, dan saya sendiri, pengalaman saya tak ada sangkut pautnya dengan pemasaran. Hal yang paling sinkron cuma pengalaman saya menyediakan jasa rekaman. Itu saja. Yang saya yakinkan ke bapak itu adalah bahwa saya siap salah dan belajar dari kesalahan itu, dan berkembang demi mampunya saya mengerjakan tugas.

1 jam berlalu. Pak Niko mulai mengecek jam tangannya. “Wah, sudah kelamaan nih,” ucapnya. Saya yang mulai tidak enak hati mulai bergegas mengambil tas, berniat pamit. Tak disangka saya ditahan. Bapak satu itu masih punya beberapa cerita yang harus diceritakan seperti produk baru Wings yang akan segera launching, kisah divisi HRD-nya yang sedang banyak proyek ke NTT, cerita seorang sales handal di Wings, dsb. 1,5 jam berlalu. Wawancara-pun berakhir. Peserta lain menatap saya penuh tanya dan keki saking lamanya. 2 orang langsung masuk berbarengan demi menghemat waktu. Segera saya merokok, bernafas kembali sembari menjawab pertanyaan kawan-kawan dadakan seputar pertanyaan interview. 10 menit berlalu. 2 orang tadi keluar. Saya hanya mampu menatap mereka penuh tanya. “So fast,” pikir saya.

Janji ‘HRD akan menghubungi dalam 2-3 minggu’ milik Wings bisa dipercaya. Tak sampai 2 minggu, ada telfon bernomor depan (031) masuk. SURABAYA! Pak Pungki mengabari bahwa saya lolos wawancara dan dipersilahkan untuk interview user di kantor district mereka di Jawa Tengah. Tempatnya, mmm… oke kayak gudang. Memang gudang, dan tidak persis di pinggir jalan, dan tidak ber-plang. Alhasil tersesatlah saya saat survey tempat 2 hari sebelum hari-H.

Ntah yang mana yang namanya Pak Johan yang akan meng-interview saya itu. Sambil menunggu, saya sempatkan berbincang dengan peserta lain. Saat itu lah sesosok pria umur 50-an keluar dari ruang interview. Dengan memegang handphone, dia melewati kami lalu tersenyum berkata “tunggu dulu ya, mas.” Lalu dia kembali berbicara ke handphone-nya, berkata dengan volume maksimal dan mode bass-boost: “Ini win-win untuk saya. Ya, itu masalah lu. Lu kan punya tanggung jawab. Saya gak peduli maunya apa. Stick sama prosedur dong (…) “. Galak! Semua staff yang sedang bekerja di sana mendadak sibuk bekerja sambil menunduk, sesekali mengintip bapak itu. Wow. “Itu bukan Pak Johan, kan?!” Itu Pak Johan.

Nama saya dipanggil. Pak Johan sudah menunggu di ruangan bersama dengan Pak Heri (ntah siapa dia). Pak Johan berbicara sangat pelan dan biasanya diakhiri dengan ‘betul, bukan?!’. Dia sempat mengingatkan saya untuk tidak terburu menjawab. “Terlalu terburu-buru itu tidak baik.” Saya perlu mengatakan bahwa dia memiliki kontak mata yang kuat, dan saya tumben sekali bertemu orang seperti ini. Saya tidak pernah merasa kontak mata yang imbang sama kuat begini. Di sela-sela jeda omongannya yang belum habis, dia akan melihat mata saya seolah berkata “show me how tough you are, kid,” dan saya tidak pernah menyerah memandang matanya sampai dia yang mengakhiri kontak. Sekilas rasanya dia menyukai saya.

Akhirnya tibalah obrolan yang paling penting: GAJI. Gaji yang ditawarkan sangat jauh dari ekspektasi saya. Memang saya akan mendapat adjustment gaji setelah melewati masa training tetapi rasanya tidak sepadan dengan pekerjaan yang akan saya lakukan. Belum lagi nantinya saya akan dilempar ke berbagai tempat. Saya hanya bisa menunduk.

Mengangkat kepala dan berkata “gak oke, Pak. Saya gak bisa terima” itu perlu keberanian ekstra. Saya perlu membuat keputusan berat karena ntah kenapa saya yakin Bapak Johan ini mampu mengembangkan saya secara maksimal. Dia sangat bisa menjadi leader yang menjadi role model untuk saya. Walaupun baru bertemu sekali itu tapi ntahlah, saya juga heran. Sebelum beranjak pergi saya berterimakasih atas kesempatannya dan menyempatkan diri menyampaikan apa yang saya lihat dari dia sesaat sebelum masuk ruang interview:

(…) kamu sudah bagus melakukan prosedur, kita sudah berusaha. Dia yang keliru. Pastikan pihak kita dan pihak mereka sama-sama mendapat keuntungan.” Dia menegur, memotivasi, dan membela staff-nya. That’s what important in leading, I guess.

“Gimana? Yakin gak berminat bergabung?”

FIN

a Not-So-Secret Letter to Mr. Right

Let me say this: I can’t even text it to you personally.

You’ve been a good person. You are a good friend. People keep looking up to you. I always know you’d be an amazing figure of leader that I respect.

IDK. It feels wrong to write this down. But believe me, it’s no trick. I’d like to thank you for taking care of her.

You know, I remember moments when I couldn’t even help her with her crying. Yes, I was always there for her but it’s like i could bring no more joy. No more joy for us. And one day I knew she’s gonna leave me. I kept thinking it was my fault the whole time, but time only heals everything. It helps me ease the pain of our separation. I barely remember our last kiss too, hahaa. Seriously, it was really hard for me to understand why she had to leave. I figured it out, though. It’s just … we just can’t be together any longer.

What i really want to say is that I’m happy you’re taking care of her. To be honest, early moments of your togetherness killed me. I thought “you’re our friend, and she is … mine. You guys can’t. It’s just not fair” and so on you name the curses. I know now, you’ve brought back the joy, you’ve been making her smile, you’re taking her somewhere exciting I perhaps would never be at. I see you take care of her very well, and I appreciate it. Thank you so much.

I hope you read it but tell me nothing because I’m a guy with pride. So stupid.

Compressor: Seberapa Lama

Sebagai bukan-pemula-bukan-expert dalam audio engineering, saya punya tips untuk teman-teman pemula yang juga tertarik memahami lebih dalam tentang teknis penggunaan alat.
Compressor. ‘Senjata’ yang sangat umum digunakan ini memang cukup membingungkan. Saya tidak akan membahas tentang apa itu ratio/attack/release dsb., tapi lebih ke seberapa banyak.

Sumber: Sound On Sound

Sumber: Sound On Sound

Pertama kali, dan sampai beberapa hari lalu, saya benar-benar tak bisa mengira-ngira seberapa cepat saya harus menge-set waktu attack dan release. Compressor bawaan DAW saya memang fleksibel, tetapi justru ini membuat saya pusing karena tak tahu panduan untuk mengeset waktu yang tepat. Banyak artikel yang saya baca menyarankan reduksi harus kembali 0 sebelum mereduksi ‘peak’ selanjutnya (kalo memang tujuannya adalah mengkompres peak). ‘Fast attack’, ‘slow release’ itu seberapa?! Serius saya bingung jika dihadapkan ke istilah-istilah itu. Untuk release ada yang nyaranin 100 ms, 150 ms. Untuk attack ada yang bilang 10 ms, 5 ms, 1 ms, bahkan 0,1 ms. Gila aja! Jadi yang mana?
Lalu terlintaslah pikiran untuk melihat compressor dalam bentuk hardware. Ya, outboard processor. Saya google lah, teman-teman juga mungkin bisa lihat nanti setelah dari sini. Dari gambar-gambar itu saya lihat konfigurasi untuk attack dan release. Lihat knob-knob itu. Dari arah jam 12 ke kiri berarti cepat, ke kanan berarti lambat. Mungkin itu cara ‘bodoh’nya ya. Berkat itu saya tahu sekarang settingan lambat release bisa mencapai hingga 2 detik. Saya jadi tidak tanggung-tanggung mengkompres sinyal bass saya sampai 600 ms agar selalu tereduksi setiap saat (musik modern katanya gitu: bass-nya gak terlalu berdinamika).
Begitulah kira-kira tipsnya. Mudah-mudah berguna ya.

Read: The Post!

“Baca buku? Nggak, ah!”

Membaca buku mungkin banyak ditinggalkan anak muda jaman sekarang. Selain membosankan, kadang membaca juga dirasa menyita waktu untuk hal lain yang mungkin lebih berguna. Selain itu, untuk mendapatkan buku juga memerlukan dana yang kadang tidak sedikit. Buku memang tak hanya bisa didapat di toko buku. Di perpustakaan pun kini banyak buku menarik yang bisa dipinjam untuk dinikmati. Maka saya kira kita semua bisa saja mengakses buku karena mudah didapat.

Saya pikir ditinggalkannya membaca buku hanya karena seseorang malas dan tidak tertarik saja. Padahal banyak hal menarik dan menyenangkan yang bisa dinikmati dari sebuah buku. Membaca buku juga tidak harus langsung selesai demi menghemat waktu. Justru membaca terlalu cepat memungkinkan pembaca miss hal-hal utama yang membuat sebuah buku tersebut menyenangkan.

Dengan kemajuan teknologi yang ada, kita kini bisa menikmati berbagai bacaan dari gadget pribadi. Tak jarang banyak orang yang men-download file-file pdf untuk nantinya dinikmati. Dan sering pula orang mencari bacaan gratis atau versi bajakan. Bacaan atau artikel gratis memang sengaja diberikan untuk dikonsumsi secara bebas, namun versi bajakan justru merugikan dan merampas hak pihak penciptanya.bible-reading-guy-7829071

Berikut adalah poin-poin yang kita dapat dari membaca buku:

1. Buku Memberi Informasi dan Hiburan

Dari sebuah buku, kita bisa mendapatkan berbagai informasi yang bisa jadi belum pernah kita tahu sebelumnya. Buku pelajaran pun bisa sangat menarik bila kita mendorong diri untuk tertarik pada isi buku tersebut. Sebagai media cetak, buku membawa hal-hal menarik yang bisa kita nikmati. Contoh: Novel, atau buku How to. Saya sendiri menyukai bacaan  How to yang memberi saya banyak sekali informasi tentang teknik dalam melakukan sesuatu. Lain dengan saya, orang-orang di sekitar saya lebih senang membaca novel, baik itu novel Indonesia, terjemahan atau berbahasa Inggris. Membaca buku juga meningkatkan kemampuan imajinasi kita. Apapun bentuknya, buku bisa sangat bermanfaat jika kita mau membaca. It’s fun!

2. Membaca Buku Membuat Pembacanya terlihat Cool.

Tak perlu dipungkiri jika anak muda jaman sekarang ingin terlihat keren. Hal ini terlihat dari, sebagai contoh; banyak-nya bisnis fashion yang bermunculan dan tendensi untuk berfoto selfie. Selain dua hal itu, membaca buku pun bisa menjadi salah satu cara untuk terlihat keren. Dengan membaca, kita bisa saja dinilai memiliki selera yang bagus dan mungkin juga terlihat berkelas, atau pintar. Jadi, jika itu bisa membantu kebutuhan untuk terlihat keren, kenapa tidak?

3. Membaca Bisa Mematikan Inner Monologue

Inner Monologue, atau monolog yang ada dalam pikiran kita, sering sekali mengganggu mood. Hal ini sering dialami seorang introvert. Seorang introvert sangat mudah merasa lelah berada di dalam keramaian. Ia seringkali perlu me-time untuk recharging. Namun saat sendiri, pikirannya akan secara intensif mengobrak-abrik dalam keheningan (saya seorang introvert).

Membaca buku bisa menjadi solusi untuk menon-aktifkan pikiran ini. Saat membaca, kita tidak sempat berpikir yang tidak-tidak selain berimajinasi. Walau terkadang inner monologue masih saja bisa mengganggu, tapi lama kelamaan pikiran akan terbiasa terfokus dalam mengimajinasi hal yang disampaikan buku. Mungkin ini juga hal bermanfaat yang didapat dari membaca buku: melatih fokus.

Jadi itulah beberapa manfaat dari membaca buku. Maka, ayo budayakan membaca. Let’s read!

Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat bagi pembacanya.

Salam,

Pinta Bilyarta

Pacaran Harusny (Kurang ‘a’)

Halo-halo!

Sebelum saya menulis, mari saya beritahu asiknya punya blog seperti ini: saya tau kata kunci yang anda pakai sehingga anda sampai di blog saya. Hahahaa. Thanks for coming anyway. Jadi alasan utama aku nulis postingan kali ini adalah karena ada yang sampai di blog ini dengan keyword: ‘pacaran harusny’ (Sumpah itu dia nulisnya emang kurang huruf ‘a’, hahahaa.)

Hmm… Pacaran harusnya gimana sih? Gimana hayooo?! Menurutku pacaran harusnya gak gimana-gimana. Ya, sewajarnya aja. Alasan pacaran ‘kan katanya karena cinta. Ya udah. Cinta aja.

Mungkin teman-teman pembaca ada yang tanya: “Kok gampang gitu, Pin?”

Simple aja. Soalnya, ini kalo buat aku loh dan mudah-mudahan pada setuju, kita lahir bukan buat menghidupi hidup orang lain. Kita menghidupi hidup kita masing-masing. Tujuan kita bukan nuntut orang berubah buat kita biar kita senang. Dan bagiku, gak ada tuh yang namanya hak ngatur-ngatur hidup orang lain walaupun realitanya selalu ada tendensi pengen ngatur dan merasa diri sendiri yang paling bener. Bahagia itu kita yang ciptain, kita juga yang nikmati. Ada kalanya kita yang sebaiknya improve. “Lhaa, kenapa kok jadi kita yang improve?” Soalnya yakinlah dengan mengimprove diri sendiri dulu akan mengimprove hubungan kemudian. Kalo dengan terus berusaha si dia tetep menjengkelkan, yaah, kalo memang gak bahagia sama dia, yaah, kenapa sih kita masih stay maksa mereka kasi kita kebahagiaan? Kalo akhirnya memang milih untuk tetap bertahan dengan dia yang nyebelin, ya udahlah, sabar aja. ‘Kan kita yang berkeputusan buat bertahan. Jadi gak usah protes.

Ini bukannya aku nyaranin teman-teman pembaca buat putus sama pacarnya loh. Tapi lebih kepada respect sama pilihan kalian. Respect sama diri sendiri. Jadi, kalo dia nyebelin, coba deh improve diri sendiri. Kalo gak tahan, kembali lagi ke menghargai keputusan masing-masing. Be strong, guys!

Akhir kata, aku ngerti banget kalo ngomong itu lebih gampang dari ngelakuin. Tapi tulisan ini adalah pelajaran yang aku dapat dari beberapa taun belakangan yang bener-bener berat buat aku. And how i wish i had done different things. Semua orang punya lukanya masing-masing kok. Dan let go memang gak segampang ngucapinnya.

Dan kata yang lebih akhir lagi. Aku nulis sambil dengerin se-album Mayday Parade yang isinya lagu galau semua. Hahahahaa geje! Komen yaa. I’ll write more soon :D

Image

Made Musik: Dorm-Recording

 

 

 

 

 

Made Musik: Dorm-RecordingUntuk sample hasil rekaman, silahkan klik link berikut. Terima kasih. https://soundcloud.com/pintabilyarta

 

 

Sekilas Tentang Pick-Up Gitar

Gitar adalah sebuah instrumen musik yang sering kita jumpai di dunia permusikan. Tak jarang pemain gitar pemula bermunculan. Kemampuan bermain gitar menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak orang. Mampu bermain gitar merepresentasikan sosok pemusik kreatif yang paham akan nada dan musik. Bergitar juga sering dimanfaatkan untuk menggoda lawan jenis, atau dikenal dengan serenade.

Umumnya, ada gitar akustik dan elektrik, atau banyak orang menyebutnya dengan gitar ‘listrik’. Gitar akustik mengandalkan lubang resonansi agar suaranya terdengar. Bagaimana dengan gitar listrik tadi? Gitar listrik menggunakan pick-up untuk menangkap gelombang suara dari senar lalu, melalui kabel, menyalurkan suara itu keluar gitar menuju amplifier gitar. Kali ini, pick-up tersebut akan dibahas menurut posisi pemasangannya.

Para gitaris, dan juga bassis, tentu pernah memperhatikan pick-up gitar yang mereka mainkan. Kita mengenal jenis pick-up humbucker maupun trembucker, aktif atau pasif. Menurut lokasi pemasangannya, pick-up pada umumnya berada pada posisi ‘neck’ dan ‘bridge’.

Neck/Bridge Pick-up

Pick-up di posisi neck memiliki karakter suara yang tebal. Neck pick-up menghasilkan frekuensi mid-range yang jelas. Hal ini membuat pick-up di posisi ini cocok sebagai pilihan saat gitar mengambil peran utama dalam sebuah bagian dalam lagu, mengisi bagian yang sengaja disiapkan dimana vokal absen. Bagian Interlude sebagai contoh.

Bridge pick-up tentu berbeda dengan neck pick-up. Pick-up yang satu ini cenderung menghasilkan suara yang lebih bright dan tajam. Berbeda dengan pick-up pada neck yang suaranya tebal, bridge pick-up cenderung memiliki karakter yang lebih tipis. Penggunaan pick-up ini cocok untuk pemain gitar rhythm dimana peran gitar adalah sebagai support dari keseluruhan instrumen yang ada dalam sebuah lagu.

Berikut adalah sample audio neck dan bridge pick-up. Perekaman menggunakan gitar Schecter Omen-6 dengan EMG 85 pada posisi neck dan EMG 81 pada bridge menuju audio interface Scarlett 2i2. Perekaman tidak diproses demi orisinalitas suara.

Penggunaan pick-up, baik pada posisi neck ataupun bridge, menghasilkan karakter suara yang berbeda. Pada akhirnya, para pemain gitar bebas memilih posisi pick-up sesuai selera masing-masing. Cheers!


 

Made Musik: Dorm-Recording

Jl. C. Simanjuntak GKV/391 Gondokusuman,Yogyakarta

Pinta Bilyarta: 082144564440

Mengenal Audio Interface dan Pre-Amp

Dalam dunia recording, kita mengenal audio interface dan pre-amp. Tak jarang banyak audio engineer pemula yang kurang paham tentang perbedaan 2 alat penting ini. Untuk itu, kali ini audio interface dan pre-amp akan dibahas.

Untuk memulai rekaman, audio interface adalah hal yang penting untuk dimiliki sebagai media utama perekaman. Interface, atau juga disebut soundcard external, ini bertugas menerima sinyal dari instrumen lalu meneruskannya menuju PC(maupun laptop) untuk selanjutnya diproses secara lebih dalam. Audio interface ada yang menggunakan USB ataupun firewire sebagai medianya untuk menyalurkan sinyal audio. Firewire mampu mengirim data sinyal audio lebih cepat sehingga resiko latency(keterlambatan bunyi suara saat digunakan secara live) dapat dihindari. Namun USB juga kini dapat digunakan secara bebas latency dengan menambah driver audio ASIO sebagai pengontrol latency tersebut. Dengan hadirnya USB 3, kini proses transfer dari audio interface yang menggunakan USB mampu dilakukan lebih cepat.

Lebih lanjut lagi, kita mengenal adanya istilah bitrate dan samplerate yang merupakan hal fundamental dalam recording. 16bit/44,1KHz sebagai contoh. Kemampuan media perekam modern kini telah mampu melakukan tugasnya pada kualitas 16, 24, dan 32-bit. Bitrate yang tinggi memberikan headroom yang lebih. Hal ini berarti menunjukkan bahwa perekaman pada 24bit memiliki level bunyi yang lebih kecil. Dengan begitu, perekaman pada 24bit membantu menghindari resiko clipping. Di dunia perekaman modern, 24bit adalah pilihan yang direkomendasikan untuk melakukan proses perekaman audio.

Audio Interface: Scarlett 2i2

Scarlett 2i2 USB dengan kemampuan rekam hingga 24bit/96KHz

Samplerate menentukan kualitas dari audio. Semakin tinggi samplerate yang digunakan, semakin tinggi pula kualitas yang dihasilkan karena samplerate yang tinggi memberi lebih banyak detail audio. Namun, hal ini bukan berarti tanpa hambatan. Semakin tinggi angka samplerate yang digunakan, semakin tinggi juga size output yang dihasilkan. Hal ini bisa menyebabkan penuhnya kapasitas harddisk PC. Samplerate yang umum digunakan untuk merekam adalah 44,1, 48, dan 96-KHz.

Sebagai tambahan informasi, kombinasi 24bit/96KHz adalah setting yang populer digunakan untuk proses rekaman. Namun setelah melalui seluruh proses, file audio akan di-downrate ke 16bit/44,1KHz. Ini adalah standar bitrate dan samplerate dalam file audio yang sering kita jumpai pada CD.

Sebelum sinyal audio dikirim ke audio interface, idealnya, sinyal tersebut harus cukup kuat terlebih dahulu. Instrumen seperti gitar dan bass memiliki output gain yang lemah. Disinilah letak kegunaan sebuah pre-amp. Pre-amp bertugas meng-amplify output langsung dari instrumen tersebut sebelum nantinya dikirim menuju audio interface. Namun, ada pula instrumen yang sinyal outputnya bisa langsung dikirim menuju interface tanpa pre-amp.

MIC200 dengan fitur yang beragam

MIC200 dengan fitur yang beragam

Contohnya adalah gitar elektrik dengan pick-up aktif. Gitar yang menggunakan pick-up aktif menggunakan baterai sebagai daya internal sehingga proses peng-amplify-an sinyal sudah terjadi di dalam gitar tersebut. Ini adalah salah satu keuntungan penggunaan pick-up aktif.

Selain berupa external unit, pre-amp terkadang dapat kita jumpai ter-bundle bersama audio interface. Pre-amp ini disebut inbuilt pre-amp (tak bisa dipisahkan dari unit audio interface). 2 alat penting yang terpaket menjadi satu ini adalah salah satu solusi bagi audio engineer yang terbatas budget. Namun tak jarang pula audio engineer lebih memilih audio interface dan pre-amp dalam bentuk unit terpisah karena kebutuhan dan selera.

Akhir kata, audio interface dan pre-amp adalah 2 media penting di dunia perekaman. Dilihat dari perannya masing-masing, 2 alat ini memiliki sinergi yang erat dalam tahap recording. Semoga tulisan ini berguna untuk para pembacanya. Cheers!


 

Made Musik: Dorm-Recording

Jl. C. Simanjuntak GKV/391 Gondokusuman,Yogyakarta

Pinta Bilyarta: 082144564440

Di Balik Sebuah Preferensi

Kapan hari ada teman yang tanya: “Pin, preference musikmu apa sih? Suka lagu-lagu yang gimana?”

Putar-putar otak, aku coba sedikit mengelaborasi jawabanku: “Hmmm.. Hardcore. Yang keras. Tapi bukan berarti selalu yang screaming gitu, dan kayaknya kamu gak tau deh.”

Sesampai di kost, aku kepikiran itu lagi. Benar juga,ya. Lagu-lagu yang aku suka bukan lagu-lagu komersil. Yang terkenal mungkin hanya satu dua. Kenapa ya aku suka musisi-musisi ini?

Aku sadari aku punya preferensi musik yang beda. Aku tidak terlalu mengikuti perkembangan musik yang lagi populer, yang lagi sering-seringnya dimainkan di radio, atau yang jadi top ten. Sering aku merasa malu karena aku tidak banyak tahu tentang lagu-lagu yang lagi hot-hot nya ini, dan saat bersama teman-teman yang ramai-ramai bernyanyi aku hanya diam. Beruntung aku mengerti yang namanya ketukan. Yah, jadi bisa ikut partisipasi dengan air-drumming. Hahahaa :D

Oliver Sykes, si manis yang pendiam namun sangar.

Sebenarnya aku bisa saja menyukai semua jenis musik. Namun aku punya seleraku sendiri. Musik keras. Lagu keras. Teriak-teriak. Hmmm. Aku suka lagu-lagu karya Kellin Quinn dari Sleeping With Sirens, Jeremy McKinnon-nya A Day to Remember, Tim Lambesis-nya As I Lay Dying, atau screaming-nya Austin Carlisle dari Of Mice and Men, atau teriakan bernadanya Oliver Sykes dari Bring Me The Horizon. Masih ada juga yang lain, macam; Pierce The Veil, Parkway Drive, Memphis May Fire, duuh banyak!! Hahahaa.

Aku mulai mendengar musik keras saat aku SD. Linkin Park. Screaming-nya Chester, vokalisnya yang saat itu masih doyan pake celana kotak-kotak merah (hihihii), mantep bener! Trus waktu SMP aku mulai dengerin Avenged Sevenfold waktu Unholy Confession baru-baru nge-hit. Ada juga Killswitch Engage yang lagunya dipakai untuk OST-nya Resident Evil: Apocalypse. Ada juga Lamb of God, dan Slipknot yang mewajibkan anak-anak gahol jaman itu manggung pakai topeng. Hahahaa.

Image

Aksi panggung A Day to Remember.

Okay, that’s enough! Dan ijinkan saya menjelaskan alasan why I love these music so much.

Pertama, mereka bertenaga. Mereka berenergi dan bersemangat. Bayangkan saja kerongkongan itu dipakai teriak-teriak setiap hari, dan kaki drummer-nya mesti ber’lari’ di atas pedal, dan front-liners nya lari-lari, jingkrak-jingkrak, manggut-manggut. Terus penonton-nya pada bikin lingkaran besar, ber-mosh pit ria. Semangat sekali. Muda sekali. Yaa, muda. Aku masih muda. Diriku ini harus kupakai semaksimal mungkin. Ini masanya self-actualization (Hello Dr. Maslow, halo psikologi, hahaa :p).

Kedua, mereka keras. Keras seperti batu, seperti baja. Hidup ini keras, kawan. Ini cara aku memandang hidup ini. Bahasa yang dipakai dalam liriknya termasuk kasar dan tak beretika. Hidup pun begitu. Banyak lirik dalam lagu-lagu ini yang bersifat mengata-ngatai, menyumpahi, menjatuhkan, dan arogan. Bukankah itu yang kita sering pikirkan dalam diri kita? Amarah seringkali kita sembunyikan karena kita terikat stereotype (oh, I hate stereotype!). Lalu kita terlalu mengandalkan asumsi dan perasaan. Merasa seseorang jengkel pada kita padahal mungkin tidak, mungkin sebenarnya mereka merasa sungkan atau apalah. Jadi, menurutku lagu-lagu ini jujur, dan merepresentasikan bahwa hidup itu keras.

Image

Parkway Drive berfoto dengan penonton di akhir konser.

Ketiga. Karena mereka ‘marah’ apa adanya, emosi jadi terluapkan dan meledak-ledak. Hei, segala emosi itu harus diekspresikan loh. Dan seseorang tidak akan selamanya marah. Akan ada saatnya emosi itu mereda. Dan datanglah masa refleksi. O,yeah refleksi. Saat ini lah aku bisa berpikir lebih jernih, lebih sehat, lebih wise. Aku selalu butuh waktu untuk meredakan segala emosi ku, dan aku percaya banyak orang juga begitu. Di fase resolusi ini (semisal aku lagi marah), aku mulai bisa melihat apa yang harus kulakukan. Note this. Lihatlah apa yang sekarang bisa kita lakukan, bukan menyalahkan apa yang telah terjadi atau berandai-andai “mestinya gini, mestinya gitu”. Leave the past, live the present, see the future. O, yeah. Sounds so wise. Ahahahaa :))

Jadi itulah dia alasan mengapa aku mencintai jenis musik ini. Banyak orang yang tidak mengerti kenapa ada orang yang suka musik-musik keras. Di sisi lain, ada banyak orang yang tergila-gila dengan musik ini. Ini mungkin hanya masalah selera. Tapi untukku, ada banyak hal lebih di dalamnya.

Eustress? Distress? Diam atau Bergerak?

Haii! Postingan kali ini adalah 1 dari 5 challenges yang sengaja kurangkai untuk hari ini sebagai pemicu semangat. Biar produktif. Hahahaa. Tantangan pertama adalah mencuci baju. Terus ada mengencangkan rantai motor, mengerjakan sub-chapter skripsi, membaca 2 chapter novel yang udah lama kutinggalkan, dan yang terakhir menulis sesuatu di sini.

O’right! Here we go!

Kita awali dengan lusa lalu. Lusa lalu aku kumpul sama teman-teman seperjuangan KKN alternatif di Filipina. Pembimbing kami yang gahol itu juga datang. Mengobrollah kami, 4 jam non-stop! Kami memang kuat ngobrol lama. Apalagi masalah-masalah yang ‘dalem’. Sampai di suatu momen, ‘mbak’ pembimbing kami bertanya padaku: “Pin, kamu kok tambah kurus aja sih? Stres ya?” dan aku hanya membisu sementara.

Ini ada sedikit contoh quotation dari inner monologue-ku:

“Stres? Mungkin. Tapi apa jangan-jangan udah tahap depresi? Eh, emang stres sendiri itu apa sih? Mungkin ini cuma masalah biasa, sehari-hari.Tapi …? Ah, nggak lah … Tapi mungkin …? Gitu aja terus ampe beneran stres! Yoh sekarang ngerjain yang lebih penting. Tapi gimana caranya gerak pas lagi stres gini? Manalagi kalo dikerjain palingan hidup cuma gitu-gitu aja. Duh muak!! Muak!! Muak!! Lhaa trus gimana?”

Punya pikiran gini menyebalkan! Tapi pikiran gini yang banyak bawa pemahaman dan ide baru. Taktik baru. Model berpikir macam gini yang bikin aku masih hidup sampai sekarang? (Lhaa, bukannya mestinya malah tewas ya?) Hahahahaaa :)

Esok menjelang. Aku duduk-duduk di teras kost bersama kawanku yang anak kedokteran. Aku langsung lempar pertanyaan: “Mas, aku pengen gemuk deh. Piye yaa caranya?” dengan harapan dia menjawab dengan skill kedokterannya.

Jawabannya mantap: “Kamu stres ya?”

Aku melongo. Hell?! “Mmm, mungkin yaa. Stres bikin kurus toh?”

Dia berkata: “Tergantung. Eustress atau Distress?!”

Nah disinilah aku mendapat ide untuk berbagi pada kalian, sahabat pena yang telah menjadi sahabat tombol keyboard. Hahahaaa … jayus.

Distress adalah bentuk stres yang bikin kita merasa jatuh, depresi, hidup ini gak berguna dan sia-sia. Trus ujung-ujung bunuh diri. Mudah-mudahan nggak sih. Pinter dikit dong. Bolak-balik cara pikir!

Dan Eustress, bentuk stres yang bikin kita merasa tertantang. Eustress ini sifatnya membangun, membentuk karakter kita menjadi lebih kuat, dan at least mengarahkan energi stres ke hal yang lebih positif ketimbang mikir “bunuh dirinya gantung diri atau nyemplung ke jurang ya?”

Jadi udah tau yang lebih baik, kan?

Bentuk Eustress-ku (mungkin) adalah muak. Kalo udah muncul, bisa produktif karena dorongan semangat. Semangat muak. Tambah adrenaline rush malah jadi tambah seru. Contoh kasus nih. Aku pernah suatu hari merasa hampir seminggu ketimpa sial terus. Satu! Aku ceroboh, nghilangin tutup pompa sepeda punya temanku. Dua! Aku tunda-tunda terus skripsiku. Males ngerjain. Malah jadi dihantui deadline tiap hari. Tiga! Aku bikin salah di perpus pas mau pinjam buku. Memalukan! Empat! Hari-hariku kosong. Terus teman-teman kost waktu itu mungkin lagi pada sibuk sendiri saat aku sebenarnya perlu dorongan semangat. Aku coba hubungin teman-teman lain untuk sekedar kumpul ngobrol, eh pada gak bisa semua. Aku yang extrovert tapi lingkar pergaulannyanya gak luas ini lumayan cepat stres kalo kurang pemenuhan kebutuhan kehidupan sosial alias kurang ngobrol. Trus yang paling gak penting, lima!: aku single, coy!

Saat bangun pagi aku bertanya untuk apa aku bangun lagi? Trus nanti malem tidur lagi cuman buat nghidupin hari-hari yang gini-gini terus. Di sini nih aku mengkombinasi segala energi emosi yang terpendam. Kuluapkan saja! (Kalimat-kalimat selanjutnya bersifat sementara) Aku benci hidupku! Aku benci teman-temanku! Aku benci gak punya pacar! Aku benci dihantui deadline! Aku bosan ke kampus ngulang mata kuliah! Aku gak bodoh kok! Aku mau cepet kerja cari uang, bosen kayak gini terus! Harus ngapain?! Perpus-skripsi-pendadaran-wisuda. Yoh! Tak kerjain! Aku harus apa nih?! Siapin teori?! Ada perpus, aku cus, SEKARANG! Dan benar saja seminggu itu aku lumayan produktif mengerjakan 1 BAB skripsi. Yah lumayan. Trus sekarang udah balik ke normal state. Leha-leha lagi? No! Udah terlanjur mulai. Ini harus selesai. Segera.

Stres bisa menjadi hal yang sangat memuakkan. Tak jarang banyak orang stres yang berujung pada masalah karakter dan kejiwaan seperti anxiety disorder atau depresi. Yang extreme adalah saat mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup. Tragis, kawan! Kalo aku sampai bunuh diri, lebih baik ayahku dulu beli mobil baru saja daripada spending berjuta-juta untuk menghidupiku. Jadi, yuk kita arahkan energi stres itu ke hal-hal yang lebih berguna. Ingatlah bahwa roda kehidupan selalu berputar, dan itu benar terjadi. Saat berada di bawah, jangan lupa kita pernah di atas. Saat berada di atas, ingat juga kita pernah jatuh dan mencoba bangkit. Life is about balance. 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.