Skip to content

Tentang Sendirian

lonely-man-136400664789603901-150923153428

It’s like the world hates me, or …

Seperti mereka ingin menjauh. Tapi, hei, bukankah aku yang selalu menolak mereka?

Mereka pasti punya intensi lain. Aku takut. Takut akan bayang-bayang kelak aku dipermainkan. Takut memikirkan hal buruk yang mungkin saja mereka rencanakan.

Tapi, hei, asumsiku pun tak lebih baik dari kebanyakan orang. Aku curiga most of the time malahan. Kabar-kabar burung juga sering tertelan mentah. Mungkin semuanya memang mentah jika aku tak punya bukti nyata. Mungkin aku harus coba untuk berani terima ajakan mereka: untuk melakukan hal yang tidak aku suka? Apa iya aku tidak akan suka? Apa hanya karena aku sedang tak ingin? Atau karena hal itu belum pernah kulakukan? Apa benar karena aku punya standar yang kusamarkan sebagai ‘prinsip’?

Saat aku bosan, saat aku lirik lagi sosial media, saat merasa sendiri, aku pikir ‘kenapa aku di sini doing nothing? Kenapa aku iri dengan kegembiraan kebersamaan orang lain? Toh aku juga yang sering nolak ajakan’

Memang untuk mencoba memulai itu susah. Apapun itu. Tak terkecuali untuk perlahan mencoba percaya. Entah apa yang telah terjadi sehingga kepercayaan itu adalah hal yang susah kuberikan pada orang lain. Mungkin sebaiknya aku diam saja di sini sendiri, atau keluar sana dengan pasrah dan masa bodoh dan lihat apa yang akan terjadi.

Sekilas Keseharian Marketing

“Daia pk, goreng sate, softergent 900″

“Sementara teritori X pakai retail dulu. Di TO bulan depan aja abis setokan.”

Nama-nama ini akan rutin keluar masuk telinga ketika berada di dunia pemasaran Wings. Saya yang awalnya hanya clingak-clinguk “pada ngomong apa sih?” kini makin terbiasa dengan istilah-istilah tersebut.

soklin_softergent_pink_900g-_1

SoKlin Softergent 900g

Saya mendekati akhir bulan ke-6 masa training saya di PT Wings Surya. Maret nanti, kontrak akan diperpanjang dan saya mulai menjadi karyawan kontrak dengan penempatan yang sudah jelas (harusnya). Ya, sudah hampir 6 bulan saya berpindah-pindah dari kota satu ke kota lainnya. Hei, jangan bayangkan kota sebesar Jogja atau Semarang. Ditempatkan di kota sebangsa Wonogiri saja sudah saya anggap “kota banget”, hahahaa. Seringkali kota kecil. Kota di mana swalayan lokal jadi pusat keramaian. Akan ada banyak nama baru dan tempat yang tak pernah sebelumnya terlintas di benak untuk dikunjungi muncul di hadapan. Kalau dulu mainnya ke Mall dan XXI, sekarang ke swalayan dan alun-alun. Luar biasa!

Bayangan bekerja di bagian pemasaran memang tidak seperti yang saya dulu bayangkan. Lapangan seolah jadi medan perang. Situasi akan sangat meminta kita tetap tampil prima di depan pelanggan. Orang-orang lapangan ini adalah delegasi. Ada citra yang harus tetap harum terbawa kemanapun pembawanya pergi. Pelayanan dan kepercayaan pelanggan juga menjadi salah satu kunci keberhasilan pemasaran. Di balik itu; sinar matahari, jalanan macet, jalanan berlubang, keramaian pasar dan bau sampah pun harus dilalui demi mencari orderan, dan itu pun dalam rapinya kemeja seragam yang harus tetap rapi apapun yang terjadi. Berfungsi ganda sebagai kolektor, sales selalu membawa uang puluhan hingga ratusan juta yang bukan miliknya. Itupun sangat beresiko digondol maling. Kadang saya merasa kasihan pada para sales yang nantinya juga akan saya pimpin. “Pak Dewa, aku gak usah dikasihani dong. Aku yang penting disemangatin aja. Bapak juga semangat” kata satu sales senior, dan ini seringkali saya ingat sebagai acuan pribadi saya bekerja.

Setiap perusahaan pasti memiliki sistim order dan pembayaran yang berbeda. Riwueh juga loh; Sales visitinput order melalui Android-Upload ke database saat kembali ke kantor-Orderan di-crosscheck oleh supervisor untuk di-approve-Diterima bagian ekspedisi dan billing untuk perencanaan muatan dan pencetakan surat jalan, surat perintah keluar barang, kitir picking list per-zona untuk kru gudang(belum lagi gudangnya terbagi atas food dan non-food) dan faktur tagihan untuk nantinya dibawa oleh sales ke lapangan. Belum lagi tugas admin marketing, belum lagi tugas admin promosi. Ribet! Walaupun tiap bagian memiliki tugasnya masing-masing, saya merasa perlu untuk juga mengerti apa yang mereka kerjakan agar bisa saling bantu toh kita kerja di bawah satu atap.

Setelah sejauh ini, semua terlihat semakin jelas. Saya semakin terbiasa setiap harinya. Ingin sekali rasanya menjadi mahir, baik itu di kantor maupun lapangan karena dengan itu baru saya merasa boleh melabeli diri saya seorang supervisor.

O-Je-Te Singkat

Saya tak pernah menyangka saya akan sampai di kota kecil bernama Blora. Di bawah naungan PT. Wings Surya, saya yang lulusan sastra ini bergabung dalam bagian marketing. Sangat nyeleneh, bukan? Itulah anak sastra: nyeleneh.

Saya berkesempatan menjalani OJT di Blora selama 2 bulan. Well, awalnya saya tidak tahu berapa lama saya akan berada di kota ini karena menurut desas-desus trainee pendahulu OJT bisa saja molor hingga berbulan-bulan sebelum di-rolling ke daerah lain.

“Huh, mau apa aku di sini?” pikir saya di awal masa training. Ketahuilah Blora ini tidak cukup luas bagi untuk dikelilingi. Seingat saya kafenya hanya ada 2. Ada sih 1 lagi, tapi berlokasi di hotel yang bintang … OK-lah terserah itu hotel bintang berapa. Kalo kata mentor saya sih “Blora ini cuma 1 jalan lurus, di tengahnya ada alun-alun, terus ya udah. Segitu aja”. Alun-alunnya mini tapi bersih dan rapi. Jujur saya agak terkesima, sedikit, hehe. Banknya sedikit. Mallnya nihil (ada Luwes sih, tapi lebih seperti plaza). Tapi belanja bulanan bisa hematlah di swalayan-swalayan lokalnya. Makan juga murah walaupun sego pecel+tempe everyday.

PT. CitraNiaga KaryaLestari, kantor distribusi Wings. Di tempat ini saya berlabuh, belajar merangkak mengenal perusahaan dan prosedur kerjanya. Saya yang tidak ahli berbahasa Jawa ini bisa dikata struggling untuk berkomunikasi. Saya, jujur saja, tidak enak ketika orang-orang sampai switching ke bahasa Indonesia demi bisa mengajak saya mengobrol. Di kantor ini saya belajar bagaimana marketing sebuah perusahaan consumer goods bekerja. Saya ditugaskan untuk Join Visit bersama salah satu sales menuju pasar-pasar tradisional di daerah Cepu yang kira-kira setengah jam ke arah timur dari Blora. Sempat juga saya masuk hutan untuk menuju desa-desa. Seru! Ini rutinitas 2 minggu pertama demi familiarnya saya dengan kerja sales. Selain itu saya sempat juga ikut bersama supervisor dari berbagai divisi untuk melihat pekerjaannya masing-masing. Hal-hal ini sangat baru bagi saya dan menyenangkan.

Alun-alun Kota Blora, salah satu tempat ‘nongkrong’ saat malam tiba.

 

Jujur saya mungkin bukan seorang trainee yang sempurna. Saya masih suka bersantai dan menggoda wanita, haha. Saya sering berpikir mungkin itu bisa membantu saya menjadi orang lapangan yang berhasil. Tidak mungkin saya di lapangan bertingkah kaku dan serba kesusu. Meskipun itu salah satu tuntutan orang lapangan, saya juga harus bisa mengolah data. Bersama satu-satunya admin sales di kantor, saya belajar ‘main’ Excel. Admin yang satu ini pokok’e istimewa. Juteknya setengah mampus. Kalo sampai lupa sedikit aja pasti deh langsung kena sindir. Gualaaak! Tapi makin lama makin sering bercanda sih. Mulai jinak sendiri😀

Seiring berjalannya waktu, saya semakin bisa berbaur dengan lingkungan dan beradaptasi. Mulai kerasan-lah istilahnya. Sampai suatu hari saya dipanggil ke Jogja untuk presentasi hasil OJT. Di Jogja sempat terpikir jika saya akan dipindah dari Blora. Saya sudah mulai suka kota itu, dan benar saja setelah presentasi usai saya dikabarkan untuk pindah penempatan OJT dari Blora ke Jogja. “Aw, saya harus senang kembali ke kota besar atau sedih berpisah dengan apa yang baru saja saya sukai?”

Saya punya 2 minggu sebelum pindah. Saya puaskan diri saya di kantor, dan di hari terakhir berat rasanya untuk berangkat kembali ke Jogja. 4,5 jam di atas motor menuju Jogja memberi saya waktu untuk bersyukur atas semua yang saya lalui di kota kecil itu. Saya tidak mau bersedih meninggalkannya, saya harus move on. Pengalaman di Blora tak’kan terganti, dan mudah-mudahan saya berkesempatan kembali karena ada sepenggal cerita yang ingin saya alami lagi.

Batal Bersayap

Ini adalah salah satu pengalaman saya melamar kerja. Wings Group.

Dramatic Ilustration

Dramatic Illustration (Sumber: http://www.pinterest.com)

Saat itu saya sedang sibuk stalking website kampus dan berbuah informasi lowongan di Wings. All Major selalu jadi kualifikasi yang saya incar. Beruntung saat itu Sales Supervisor sedang dibutuhkan. Sempat bingung juga karena di website kampus tetangga juga ada informasi yang sama tetapi nama perusahaannya agak berbeda sedikit: PT. Sayap Mas Utama dan PT. Wings Surya (saya melamar yang ini). Sesaat sebelum tes tulis dilaksanakan, staff HRD; Pak Niko dan Pak Pungki, menjelaskan bahwa Wings Group secara garis besar dibagi atas bagian Indonesia Barat (Sayap Mas Utama – Jakarta) dan Indonesia Timur (Wings Surya – Surabaya).

Kalau saya boleh berkomentar, Pak Niko terlihat agak melambai dan Pak Pungki terlihat sedikit pendiam. Tes yang dilaksanakan adalah tes tulis biasa seperti hitungan dasar, bangun ruang, jarak, dsb. Lalu ada tes menggambar orang dan tes wartegg (bau-baunya kayak psikotes (yes, namanya wartegg, haha)). Tes kira – kira memakan 4 jam. Bersyukur nama saya ada di list peserta yang lolos. Setelah istirahat 1 jam, kami kembali lagi ke tempat tes untuk interview dengan HRD. Saya yang sedang merokok spontan kaget karena saya yang pertama dipanggil. Saya pikir bau asap rokok akan membuat peng-interview tidak nyaman. Tanpa sempat deg-degan, “Hajar aja,” pikir saya. Pak Niko kali itu yang bertugas mewawancara. Dia tidak melambai seperti yang saya kira. Justru orangnya asik. Pertanyaannya juga cukup masuk akal. Dia tanya cerita-cerita berkesan seputar pengalaman pribadi. Nah, pengalaman itu lalu dihubungkan kaitannya ke posisi yang saya lamar. Menurut Pak Niko, dan saya sendiri, pengalaman saya tak ada sangkut pautnya dengan pemasaran. Hal yang paling sinkron cuma pengalaman saya menyediakan jasa rekaman. Itu saja. Yang saya yakinkan ke bapak itu adalah bahwa saya siap salah dan belajar dari kesalahan itu, dan berkembang demi mampunya saya mengerjakan tugas.

1 jam berlalu. Pak Niko mulai mengecek jam tangannya. “Wah, sudah kelamaan nih,” ucapnya. Saya yang mulai tidak enak hati mulai bergegas mengambil tas, berniat pamit. Tak disangka saya ditahan. Bapak satu itu masih punya beberapa cerita yang harus diceritakan seperti produk baru Wings yang akan segera launching, kisah divisi HRD-nya yang sedang banyak proyek ke NTT, cerita seorang sales handal di Wings, dsb. 1,5 jam berlalu. Wawancara-pun berakhir. Peserta lain menatap saya penuh tanya dan keki saking lamanya. 2 orang langsung masuk berbarengan demi menghemat waktu. Segera saya merokok, bernafas kembali sembari menjawab pertanyaan kawan-kawan dadakan seputar pertanyaan interview. 10 menit berlalu. 2 orang tadi keluar. Saya hanya mampu menatap mereka penuh tanya. “So fast,” pikir saya.

Janji ‘HRD akan menghubungi dalam 2-3 minggu’ milik Wings bisa dipercaya. Tak sampai 2 minggu, ada telfon bernomor depan (031) masuk. SURABAYA! Pak Pungki mengabari bahwa saya lolos wawancara dan dipersilahkan untuk interview user di kantor district mereka di Jawa Tengah. Tempatnya, mmm… oke kayak gudang. Memang gudang, dan tidak persis di pinggir jalan, dan tidak ber-plang. Alhasil tersesatlah saya saat survey tempat 2 hari sebelum hari-H.

Ntah yang mana yang namanya Pak Johan yang akan meng-interview saya itu. Sambil menunggu, saya sempatkan berbincang dengan peserta lain. Saat itu lah sesosok pria umur 50-an keluar dari ruang interview. Dengan memegang handphone, dia melewati kami lalu tersenyum berkata “tunggu dulu ya, mas.” Lalu dia kembali berbicara ke handphone-nya, berkata dengan volume maksimal dan mode bass-boost: “Ini win-win untuk saya. Ya, itu masalah lu. Lu kan punya tanggung jawab. Saya gak peduli maunya apa. Stick sama prosedur dong (…) “. Galak! Semua staff yang sedang bekerja di sana mendadak sibuk bekerja sambil menunduk, sesekali mengintip bapak itu. Wow. “Itu bukan Pak Johan, kan?!” Itu Pak Johan.

Nama saya dipanggil. Pak Johan sudah menunggu di ruangan bersama dengan Pak Heri (ntah siapa dia). Pak Johan berbicara sangat pelan dan biasanya diakhiri dengan ‘betul, bukan?!’. Dia sempat mengingatkan saya untuk tidak terburu menjawab. “Terlalu terburu-buru itu tidak baik.” Saya perlu mengatakan bahwa dia memiliki kontak mata yang kuat, dan saya tumben sekali bertemu orang seperti ini. Saya tidak pernah merasa kontak mata yang imbang sama kuat begini. Di sela-sela jeda omongannya yang belum habis, dia akan melihat mata saya seolah berkata “show me how tough you are, kid,” dan saya tidak pernah menyerah memandang matanya sampai dia yang mengakhiri kontak. Sekilas rasanya dia menyukai saya.

Akhirnya tibalah obrolan yang paling penting: GAJI. Gaji yang ditawarkan sangat jauh dari ekspektasi saya. Memang saya akan mendapat adjustment gaji setelah melewati masa training tetapi rasanya tidak sepadan dengan pekerjaan yang akan saya lakukan. Belum lagi nantinya saya akan dilempar ke berbagai tempat. Saya hanya bisa menunduk.

Mengangkat kepala dan berkata “gak oke, Pak. Saya gak bisa terima” itu perlu keberanian ekstra. Saya perlu membuat keputusan berat karena ntah kenapa saya yakin Bapak Johan ini mampu mengembangkan saya secara maksimal. Dia sangat bisa menjadi leader yang menjadi role model untuk saya. Walaupun baru bertemu sekali itu tapi ntahlah, saya juga heran. Sebelum beranjak pergi saya berterimakasih atas kesempatannya dan menyempatkan diri menyampaikan apa yang saya lihat dari dia sesaat sebelum masuk ruang interview:

(…) kamu sudah bagus melakukan prosedur, kita sudah berusaha. Dia yang keliru. Pastikan pihak kita dan pihak mereka sama-sama mendapat keuntungan.” Dia menegur, memotivasi, dan membela staff-nya. That’s what important in leading, I guess.

“Gimana? Yakin gak berminat bergabung?”

FIN

a Not-So-Secret Letter to Mr. Right

Let me say this: I can’t even text it to you personally.

You’ve been a good person. You are a good friend. People keep looking up to you. I always know you’d be an amazing figure of leader that I respect.

IDK. It feels wrong to write this down. But believe me, it’s no trick. I’d like to thank you for taking care of her.

You know, I remember moments when I couldn’t even help her with her crying. Yes, I was always there for her but it’s like i could bring no more joy. No more joy for us. And one day I knew she’s gonna leave me. I kept thinking it was my fault the whole time, but time only heals everything. It helps me ease the pain of our separation. I barely remember our last kiss too, hahaa. Seriously, it was really hard for me to understand why she had to leave. I figured it out, though. It’s just … we just can’t be together any longer.

What i really want to say is that I’m happy you’re taking care of her. To be honest, early moments of your togetherness killed me. I thought “you’re our friend, and she is … mine. You guys can’t. It’s just not fair” and so on you name the curses. I know now, you’ve brought back the joy, you’ve been making her smile, you’re taking her somewhere exciting I perhaps would never be at. I see you take care of her very well, and I appreciate it. Thank you so much.

I hope you read it but tell me nothing because I’m a guy with pride. So stupid.

Compressor: Seberapa Lama

Sebagai bukan-pemula-bukan-expert dalam audio engineering, saya punya tips untuk teman-teman pemula yang juga tertarik memahami lebih dalam tentang teknis penggunaan alat.
Compressor. ‘Senjata’ yang sangat umum digunakan ini memang cukup membingungkan. Saya tidak akan membahas tentang apa itu ratio/attack/release dsb., tapi lebih ke seberapa banyak.

Sumber: Sound On Sound

Sumber: Sound On Sound

Pertama kali, dan sampai beberapa hari lalu, saya benar-benar tak bisa mengira-ngira seberapa cepat saya harus menge-set waktu attack dan release. Compressor bawaan DAW saya memang fleksibel, tetapi justru ini membuat saya pusing karena tak tahu panduan untuk mengeset waktu yang tepat. Banyak artikel yang saya baca menyarankan reduksi harus kembali 0 sebelum mereduksi ‘peak’ selanjutnya (kalo memang tujuannya adalah mengkompres peak). ‘Fast attack’, ‘slow release’ itu seberapa?! Serius saya bingung jika dihadapkan ke istilah-istilah itu. Untuk release ada yang nyaranin 100 ms, 150 ms. Untuk attack ada yang bilang 10 ms, 5 ms, 1 ms, bahkan 0,1 ms. Gila aja! Jadi yang mana?
Lalu terlintaslah pikiran untuk melihat compressor dalam bentuk hardware. Ya, outboard processor. Saya google lah, teman-teman juga mungkin bisa lihat nanti setelah dari sini. Dari gambar-gambar itu saya lihat konfigurasi untuk attack dan release. Lihat knob-knob itu. Dari arah jam 12 ke kiri berarti cepat, ke kanan berarti lambat. Mungkin itu cara ‘bodoh’nya ya. Berkat itu saya tahu sekarang settingan lambat release bisa mencapai hingga 2 detik. Saya jadi tidak tanggung-tanggung mengkompres sinyal bass saya sampai 600 ms agar selalu tereduksi setiap saat (musik modern katanya gitu: bass-nya gak terlalu berdinamika).
Begitulah kira-kira tipsnya. Mudah-mudah berguna ya.

Read: The Post!

“Baca buku? Nggak, ah!”

Membaca buku mungkin banyak ditinggalkan anak muda jaman sekarang. Selain membosankan, kadang membaca juga dirasa menyita waktu untuk hal lain yang mungkin lebih berguna. Selain itu, untuk mendapatkan buku juga memerlukan dana yang kadang tidak sedikit. Buku memang tak hanya bisa didapat di toko buku. Di perpustakaan pun kini banyak buku menarik yang bisa dipinjam untuk dinikmati. Maka saya kira kita semua bisa saja mengakses buku karena mudah didapat.

Saya pikir ditinggalkannya membaca buku hanya karena seseorang malas dan tidak tertarik saja. Padahal banyak hal menarik dan menyenangkan yang bisa dinikmati dari sebuah buku. Membaca buku juga tidak harus langsung selesai demi menghemat waktu. Justru membaca terlalu cepat memungkinkan pembaca miss hal-hal utama yang membuat sebuah buku tersebut menyenangkan.

Dengan kemajuan teknologi yang ada, kita kini bisa menikmati berbagai bacaan dari gadget pribadi. Tak jarang banyak orang yang men-download file-file pdf untuk nantinya dinikmati. Dan sering pula orang mencari bacaan gratis atau versi bajakan. Bacaan atau artikel gratis memang sengaja diberikan untuk dikonsumsi secara bebas, namun versi bajakan justru merugikan dan merampas hak pihak penciptanya.bible-reading-guy-7829071

Berikut adalah poin-poin yang kita dapat dari membaca buku:

1. Buku Memberi Informasi dan Hiburan

Dari sebuah buku, kita bisa mendapatkan berbagai informasi yang bisa jadi belum pernah kita tahu sebelumnya. Buku pelajaran pun bisa sangat menarik bila kita mendorong diri untuk tertarik pada isi buku tersebut. Sebagai media cetak, buku membawa hal-hal menarik yang bisa kita nikmati. Contoh: Novel, atau buku How to. Saya sendiri menyukai bacaan  How to yang memberi saya banyak sekali informasi tentang teknik dalam melakukan sesuatu. Lain dengan saya, orang-orang di sekitar saya lebih senang membaca novel, baik itu novel Indonesia, terjemahan atau berbahasa Inggris. Membaca buku juga meningkatkan kemampuan imajinasi kita. Apapun bentuknya, buku bisa sangat bermanfaat jika kita mau membaca. It’s fun!

2. Membaca Buku Membuat Pembacanya terlihat Cool.

Tak perlu dipungkiri jika anak muda jaman sekarang ingin terlihat keren. Hal ini terlihat dari, sebagai contoh; banyak-nya bisnis fashion yang bermunculan dan tendensi untuk berfoto selfie. Selain dua hal itu, membaca buku pun bisa menjadi salah satu cara untuk terlihat keren. Dengan membaca, kita bisa saja dinilai memiliki selera yang bagus dan mungkin juga terlihat berkelas, atau pintar. Jadi, jika itu bisa membantu kebutuhan untuk terlihat keren, kenapa tidak?

3. Membaca Bisa Mematikan Inner Monologue

Inner Monologue, atau monolog yang ada dalam pikiran kita, sering sekali mengganggu mood. Hal ini sering dialami seorang introvert. Seorang introvert sangat mudah merasa lelah berada di dalam keramaian. Ia seringkali perlu me-time untuk recharging. Namun saat sendiri, pikirannya akan secara intensif mengobrak-abrik dalam keheningan (saya seorang introvert).

Membaca buku bisa menjadi solusi untuk menon-aktifkan pikiran ini. Saat membaca, kita tidak sempat berpikir yang tidak-tidak selain berimajinasi. Walau terkadang inner monologue masih saja bisa mengganggu, tapi lama kelamaan pikiran akan terbiasa terfokus dalam mengimajinasi hal yang disampaikan buku. Mungkin ini juga hal bermanfaat yang didapat dari membaca buku: melatih fokus.

Jadi itulah beberapa manfaat dari membaca buku. Maka, ayo budayakan membaca. Let’s read!

Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat bagi pembacanya.

Salam,

Pinta Bilyarta

Pacaran Harusny (Kurang ‘a’)

Halo-halo!

Sebelum saya menulis, mari saya beritahu asiknya punya blog seperti ini: saya tau kata kunci yang anda pakai sehingga anda sampai di blog saya. Hahahaa. Thanks for coming anyway. Jadi alasan utama aku nulis postingan kali ini adalah karena ada yang sampai di blog ini dengan keyword: ‘pacaran harusny’ (Sumpah itu dia nulisnya emang kurang huruf ‘a’, hahahaa.)

Hmm… Pacaran harusnya gimana sih? Gimana hayooo?! Menurutku pacaran harusnya gak gimana-gimana. Ya, sewajarnya aja. Alasan pacaran ‘kan katanya karena cinta. Ya udah. Cinta aja.

Mungkin teman-teman pembaca ada yang tanya: “Kok gampang gitu, Pin?”

Simple aja. Soalnya, ini kalo buat aku loh dan mudah-mudahan pada setuju, kita lahir bukan buat menghidupi hidup orang lain. Kita menghidupi hidup kita masing-masing. Tujuan kita bukan nuntut orang berubah buat kita biar kita senang. Dan bagiku, gak ada tuh yang namanya hak ngatur-ngatur hidup orang lain walaupun realitanya selalu ada tendensi pengen ngatur dan merasa diri sendiri yang paling bener. Bahagia itu kita yang ciptain, kita juga yang nikmati. Ada kalanya kita yang sebaiknya improve. “Lhaa, kenapa kok jadi kita yang improve?” Soalnya yakinlah dengan mengimprove diri sendiri dulu akan mengimprove hubungan kemudian. Kalo dengan terus berusaha si dia tetep menjengkelkan, yaah, kalo memang gak bahagia sama dia, yaah, kenapa sih kita masih stay maksa mereka kasi kita kebahagiaan? Kalo akhirnya memang milih untuk tetap bertahan dengan dia yang nyebelin, ya udahlah, sabar aja. ‘Kan kita yang berkeputusan buat bertahan. Jadi gak usah protes.

Ini bukannya aku nyaranin teman-teman pembaca buat putus sama pacarnya loh. Tapi lebih kepada respect sama pilihan kalian. Respect sama diri sendiri. Jadi, kalo dia nyebelin, coba deh improve diri sendiri. Kalo gak tahan, kembali lagi ke menghargai keputusan masing-masing. Be strong, guys!

Akhir kata, aku ngerti banget kalo ngomong itu lebih gampang dari ngelakuin. Tapi tulisan ini adalah pelajaran yang aku dapat dari beberapa taun belakangan yang bener-bener berat buat aku. And how i wish i had done different things. Semua orang punya lukanya masing-masing kok. Dan let go memang gak segampang ngucapinnya.

Dan kata yang lebih akhir lagi. Aku nulis sambil dengerin se-album Mayday Parade yang isinya lagu galau semua. Hahahahaa geje! Komen yaa. I’ll write more soon😀

Image

Made Musik: Dorm-Recording

 

 

 

 

 

Made Musik: Dorm-RecordingUntuk sample hasil rekaman, silahkan klik link berikut. Terima kasih. https://soundcloud.com/pintabilyarta

 

 

Sekilas Tentang Pick-Up Gitar

Gitar adalah sebuah instrumen musik yang sering kita jumpai di dunia permusikan. Tak jarang pemain gitar pemula bermunculan. Kemampuan bermain gitar menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak orang. Mampu bermain gitar merepresentasikan sosok pemusik kreatif yang paham akan nada dan musik. Bergitar juga sering dimanfaatkan untuk menggoda lawan jenis, atau dikenal dengan serenade.

Umumnya, ada gitar akustik dan elektrik, atau banyak orang menyebutnya dengan gitar ‘listrik’. Gitar akustik mengandalkan lubang resonansi agar suaranya terdengar. Bagaimana dengan gitar listrik tadi? Gitar listrik menggunakan pick-up untuk menangkap gelombang suara dari senar lalu, melalui kabel, menyalurkan suara itu keluar gitar menuju amplifier gitar. Kali ini, pick-up tersebut akan dibahas menurut posisi pemasangannya.

Para gitaris, dan juga bassis, tentu pernah memperhatikan pick-up gitar yang mereka mainkan. Kita mengenal jenis pick-up humbucker maupun trembucker, aktif atau pasif. Menurut lokasi pemasangannya, pick-up pada umumnya berada pada posisi ‘neck’ dan ‘bridge’.

Neck/Bridge Pick-up

Pick-up di posisi neck memiliki karakter suara yang tebal. Neck pick-up menghasilkan frekuensi mid-range yang jelas. Hal ini membuat pick-up di posisi ini cocok sebagai pilihan saat gitar mengambil peran utama dalam sebuah bagian dalam lagu, mengisi bagian yang sengaja disiapkan dimana vokal absen. Bagian Interlude sebagai contoh.

Bridge pick-up tentu berbeda dengan neck pick-up. Pick-up yang satu ini cenderung menghasilkan suara yang lebih bright dan tajam. Berbeda dengan pick-up pada neck yang suaranya tebal, bridge pick-up cenderung memiliki karakter yang lebih tipis. Penggunaan pick-up ini cocok untuk pemain gitar rhythm dimana peran gitar adalah sebagai support dari keseluruhan instrumen yang ada dalam sebuah lagu.

Berikut adalah sample audio neck dan bridge pick-up. Perekaman menggunakan gitar Schecter Omen-6 dengan EMG 85 pada posisi neck dan EMG 81 pada bridge menuju audio interface Scarlett 2i2. Perekaman tidak diproses demi orisinalitas suara.

Penggunaan pick-up, baik pada posisi neck ataupun bridge, menghasilkan karakter suara yang berbeda. Pada akhirnya, para pemain gitar bebas memilih posisi pick-up sesuai selera masing-masing. Cheers!


 

Made Musik: Dorm-Recording

Jl. C. Simanjuntak GKV/391 Gondokusuman,Yogyakarta

Pinta Bilyarta: 082144564440

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.