Skip to content

Pacaran Harusny (Kurang ‘a’)

Halo-halo!

Sebelum saya menulis, mari saya beritahu asiknya punya blog seperti ini: saya tau kata kunci yang anda pakai sehingga anda sampai di blog saya. Hahahaa. Thanks for coming anyway. Jadi alasan utama aku nulis postingan kali ini adalah karena ada yang sampai di blog ini dengan keyword: ‘pacaran harusny’ (Sumpah itu dia nulisnya emang kurang huruf ‘a’, hahahaa.)

Hmm… Pacaran harusnya gimana sih? Gimana hayooo?! Menurutku pacaran harusnya gak gimana-gimana. Ya, sewajarnya aja. Alasan pacaran ‘kan katanya karena cinta. Ya udah. Cinta aja.

Mungkin teman-teman pembaca ada yang tanya: “Kok gampang gitu, Pin?”

Simple aja. Soalnya, ini kalo buat aku loh dan mudah-mudahan pada setuju, kita lahir bukan buat menghidupi hidup orang lain. Kita menghidupi hidup kita masing-masing. Tujuan kita bukan nuntut orang berubah buat kita biar kita senang. Dan bagiku, gak ada tuh yang namanya hak ngatur-ngatur hidup orang lain walaupun realitanya selalu ada tendensi pengen ngatur dan merasa diri sendiri yang paling bener. Bahagia itu kita yang ciptain, kita juga yang nikmati. Ada kalanya kita yang sebaiknya improve. “Lhaa, kenapa kok jadi kita yang improve?” Soalnya yakinlah dengan mengimprove diri sendiri dulu akan mengimprove hubungan kemudian. Kalo dengan terus berusaha si dia tetep menjengkelkan, yaah, kalo memang gak bahagia sama dia, yaah, kenapa sih kita masih stay maksa mereka kasi kita kebahagiaan? Kalo akhirnya memang milih untuk tetap bertahan dengan dia yang nyebelin, ya udahlah, sabar aja. ‘Kan kita yang berkeputusan buat bertahan. Jadi gak usah protes.

Ini bukannya aku nyaranin teman-teman pembaca buat putus sama pacarnya loh. Tapi lebih kepada respect sama pilihan kalian. Respect sama diri sendiri. Jadi, kalo dia nyebelin, coba deh improve diri sendiri. Kalo gak tahan, kembali lagi ke menghargai keputusan masing-masing. Be strong, guys!

Akhir kata, aku ngerti banget kalo ngomong itu lebih gampang dari ngelakuin. Tapi tulisan ini adalah pelajaran yang aku dapat dari beberapa taun belakangan yang bener-bener berat buat aku. And how i wish i had done different things. Semua orang punya lukanya masing-masing kok. Dan let go memang gak segampang ngucapinnya.

Dan kata yang lebih akhir lagi. Aku nulis sambil dengerin se-album Mayday Parade yang isinya lagu galau semua. Hahahahaa geje! Komen yaa. I’ll write more soon :D

Image

Made Musik: Dorm-Recording

Made Musik: Dorm-Recording

Sekilas Tentang Pick-Up Gitar

Gitar adalah sebuah instrumen musik yang sering kita jumpai di dunia permusikan. Tak jarang pemain gitar pemula bermunculan. Kemampuan bermain gitar menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak orang. Mampu bermain gitar merepresentasikan sosok pemusik kreatif yang paham akan nada dan musik. Bergitar juga sering dimanfaatkan untuk menggoda lawan jenis, atau dikenal dengan serenade.

Umumnya, ada gitar akustik dan elektrik, atau banyak orang menyebutnya dengan gitar ‘listrik’. Gitar akustik mengandalkan lubang resonansi agar suaranya terdengar. Bagaimana dengan gitar listrik tadi? Gitar listrik menggunakan pick-up untuk menangkap gelombang suara dari senar lalu, melalui kabel, menyalurkan suara itu keluar gitar menuju amplifier gitar. Kali ini, pick-up tersebut akan dibahas menurut posisi pemasangannya.

Para gitaris, dan juga bassis, tentu pernah memperhatikan pick-up gitar yang mereka mainkan. Kita mengenal jenis pick-up humbucker maupun trembucker, aktif atau pasif. Menurut lokasi pemasangannya, pick-up pada umumnya berada pada posisi ‘neck’ dan ‘bridge’.

Neck/Bridge Pick-up

Pick-up di posisi neck memiliki karakter suara yang tebal. Neck pick-up menghasilkan frekuensi mid-range yang jelas. Hal ini membuat pick-up di posisi ini cocok sebagai pilihan saat gitar mengambil peran utama dalam sebuah bagian dalam lagu, mengisi bagian yang sengaja disiapkan dimana vokal absen. Bagian Interlude sebagai contoh.

Bridge pick-up tentu berbeda dengan neck pick-up. Pick-up yang satu ini cenderung menghasilkan suara yang lebih bright dan tajam. Berbeda dengan pick-up pada neck yang suaranya tebal, bridge pick-up cenderung memiliki karakter yang lebih tipis. Penggunaan pick-up ini cocok untuk pemain gitar rhythm dimana peran gitar adalah sebagai support dari keseluruhan instrumen yang ada dalam sebuah lagu.

Berikut adalah sample audio neck dan bridge pick-up. Perekaman menggunakan gitar Schecter Omen-6 dengan EMG 85 pada posisi neck dan EMG 81 pada bridge menuju audio interface Scarlett 2i2. Perekaman tidak diproses demi orisinalitas suara.

Penggunaan pick-up, baik pada posisi neck ataupun bridge, menghasilkan karakter suara yang berbeda. Pada akhirnya, para pemain gitar bebas memilih posisi pick-up sesuai selera masing-masing. Cheers!


 

Made Musik: Dorm-Recording

Jl. C. Simanjuntak GKV/391 Gondokusuman,Yogyakarta

Pinta Bilyarta: 082144564440

Mengenal Audio Interface dan Pre-Amp

Dalam dunia recording, kita mengenal audio interface dan pre-amp. Tak jarang banyak audio engineer pemula yang kurang paham tentang perbedaan 2 alat penting ini. Untuk itu, kali ini audio interface dan pre-amp akan dibahas.

Untuk memulai rekaman, audio interface adalah hal yang penting untuk dimiliki sebagai media utama perekaman. Interface, atau juga disebut soundcard external, ini bertugas menerima sinyal dari instrumen lalu meneruskannya menuju PC(maupun laptop) untuk selanjutnya diproses secara lebih dalam. Audio interface ada yang menggunakan USB ataupun firewire sebagai medianya untuk menyalurkan sinyal audio. Firewire mampu mengirim data sinyal audio lebih cepat sehingga resiko latency(keterlambatan bunyi suara saat digunakan secara live) dapat dihindari. Namun USB juga kini dapat digunakan secara bebas latency dengan menambah driver audio ASIO sebagai pengontrol latency tersebut. Dengan hadirnya USB 3, kini proses transfer dari audio interface yang menggunakan USB mampu dilakukan lebih cepat.

Lebih lanjut lagi, kita mengenal adanya istilah bitrate dan samplerate yang merupakan hal fundamental dalam recording. 16bit/44,1KHz sebagai contoh. Kemampuan media perekam modern kini telah mampu melakukan tugasnya pada kualitas 16, 24, dan 32-bit. Bitrate yang tinggi memberikan headroom yang lebih. Hal ini berarti menunjukkan bahwa perekaman pada 24bit memiliki level bunyi yang lebih kecil. Dengan begitu, perekaman pada 24bit membantu menghindari resiko clipping. Di dunia perekaman modern, 24bit adalah pilihan yang direkomendasikan untuk melakukan proses perekaman audio.

Audio Interface: Scarlett 2i2

Scarlett 2i2 USB dengan kemampuan rekam hingga 24bit/96KHz

Samplerate menentukan kualitas dari audio. Semakin tinggi samplerate yang digunakan, semakin tinggi pula kualitas yang dihasilkan karena samplerate yang tinggi memberi lebih banyak detail audio. Namun, hal ini bukan berarti tanpa hambatan. Semakin tinggi angka samplerate yang digunakan, semakin tinggi juga size output yang dihasilkan. Hal ini bisa menyebabkan penuhnya kapasitas harddisk PC. Samplerate yang umum digunakan untuk merekam adalah 44,1, 48, dan 96-KHz.

Sebagai tambahan informasi, kombinasi 24bit/96KHz adalah setting yang populer digunakan untuk proses rekaman. Namun setelah melalui seluruh proses, file audio akan di-downrate ke 16bit/44,1KHz. Ini adalah standar bitrate dan samplerate dalam file audio yang sering kita jumpai pada CD.

Sebelum sinyal audio dikirim ke audio interface, idealnya, sinyal tersebut harus cukup kuat terlebih dahulu. Instrumen seperti gitar dan bass memiliki output gain yang lemah. Disinilah letak kegunaan sebuah pre-amp. Pre-amp bertugas meng-amplify output langsung dari instrumen tersebut sebelum nantinya dikirim menuju audio interface. Namun, ada pula instrumen yang sinyal outputnya bisa langsung dikirim menuju interface tanpa pre-amp.

MIC200 dengan fitur yang beragam

MIC200 dengan fitur yang beragam

Contohnya adalah gitar elektrik dengan pick-up aktif. Gitar yang menggunakan pick-up aktif menggunakan baterai sebagai daya internal sehingga proses peng-amplify-an sinyal sudah terjadi di dalam gitar tersebut. Ini adalah salah satu keuntungan penggunaan pick-up aktif.

Selain berupa external unit, pre-amp terkadang dapat kita jumpai ter-bundle bersama audio interface. Pre-amp ini disebut inbuilt pre-amp (tak bisa dipisahkan dari unit audio interface). 2 alat penting yang terpaket menjadi satu ini adalah salah satu solusi bagi audio engineer yang terbatas budget. Namun tak jarang pula audio engineer lebih memilih audio interface dan pre-amp dalam bentuk unit terpisah karena kebutuhan dan selera.

Akhir kata, audio interface dan pre-amp adalah 2 media penting di dunia perekaman. Dilihat dari perannya masing-masing, 2 alat ini memiliki sinergi yang erat dalam tahap recording. Semoga tulisan ini berguna untuk para pembacanya. Cheers!


 

Made Musik: Dorm-Recording

Jl. C. Simanjuntak GKV/391 Gondokusuman,Yogyakarta

Pinta Bilyarta: 082144564440

Di Balik Sebuah Preferensi

Kapan hari ada teman yang tanya: “Pin, preference musikmu apa sih? Suka lagu-lagu yang gimana?”

Putar-putar otak, aku coba sedikit mengelaborasi jawabanku: “Hmmm.. Hardcore. Yang keras. Tapi bukan berarti selalu yang screaming gitu, dan kayaknya kamu gak tau deh.”

Sesampai di kost, aku kepikiran itu lagi. Benar juga,ya. Lagu-lagu yang aku suka bukan lagu-lagu komersil. Yang terkenal mungkin hanya satu dua. Kenapa ya aku suka musisi-musisi ini?

Aku sadari aku punya preferensi musik yang beda. Aku tidak terlalu mengikuti perkembangan musik yang lagi populer, yang lagi sering-seringnya dimainkan di radio, atau yang jadi top ten. Sering aku merasa malu karena aku tidak banyak tahu tentang lagu-lagu yang lagi hot-hot nya ini, dan saat bersama teman-teman yang ramai-ramai bernyanyi aku hanya diam. Beruntung aku mengerti yang namanya ketukan. Yah, jadi bisa ikut partisipasi dengan air-drumming. Hahahaa :D

Oliver Sykes, si manis yang pendiam namun sangar.

Sebenarnya aku bisa saja menyukai semua jenis musik. Namun aku punya seleraku sendiri. Musik keras. Lagu keras. Teriak-teriak. Hmmm. Aku suka lagu-lagu karya Kellin Quinn dari Sleeping With Sirens, Jeremy McKinnon-nya A Day to Remember, Tim Lambesis-nya As I Lay Dying, atau screaming-nya Austin Carlisle dari Of Mice and Men, atau teriakan bernadanya Oliver Sykes dari Bring Me The Horizon. Masih ada juga yang lain, macam; Pierce The Veil, Parkway Drive, Memphis May Fire, duuh banyak!! Hahahaa.

Aku mulai mendengar musik keras saat aku SD. Linkin Park. Screaming-nya Chester, vokalisnya yang saat itu masih doyan pake celana kotak-kotak merah (hihihii), mantep bener! Trus waktu SMP aku mulai dengerin Avenged Sevenfold waktu Unholy Confession baru-baru nge-hit. Ada juga Killswitch Engage yang lagunya dipakai untuk OST-nya Resident Evil: Apocalypse. Ada juga Lamb of God, dan Slipknot yang mewajibkan anak-anak gahol jaman itu manggung pakai topeng. Hahahaa.

Image

Aksi panggung A Day to Remember.

Okay, that’s enough! Dan ijinkan saya menjelaskan alasan why I love these music so much.

Pertama, mereka bertenaga. Mereka berenergi dan bersemangat. Bayangkan saja kerongkongan itu dipakai teriak-teriak setiap hari, dan kaki drummer-nya mesti ber’lari’ di atas pedal, dan front-liners nya lari-lari, jingkrak-jingkrak, manggut-manggut. Terus penonton-nya pada bikin lingkaran besar, ber-mosh pit ria. Semangat sekali. Muda sekali. Yaa, muda. Aku masih muda. Diriku ini harus kupakai semaksimal mungkin. Ini masanya self-actualization (Hello Dr. Maslow, halo psikologi, hahaa :p).

Kedua, mereka keras. Keras seperti batu, seperti baja. Hidup ini keras, kawan. Ini cara aku memandang hidup ini. Bahasa yang dipakai dalam liriknya termasuk kasar dan tak beretika. Hidup pun begitu. Banyak lirik dalam lagu-lagu ini yang bersifat mengata-ngatai, menyumpahi, menjatuhkan, dan arogan. Bukankah itu yang kita sering pikirkan dalam diri kita? Amarah seringkali kita sembunyikan karena kita terikat stereotype (oh, I hate stereotype!). Lalu kita terlalu mengandalkan asumsi dan perasaan. Merasa seseorang jengkel pada kita padahal mungkin tidak, mungkin sebenarnya mereka merasa sungkan atau apalah. Jadi, menurutku lagu-lagu ini jujur, dan merepresentasikan bahwa hidup itu keras.

Image

Parkway Drive berfoto dengan penonton di akhir konser.

Ketiga. Karena mereka ‘marah’ apa adanya, emosi jadi terluapkan dan meledak-ledak. Hei, segala emosi itu harus diekspresikan loh. Dan seseorang tidak akan selamanya marah. Akan ada saatnya emosi itu mereda. Dan datanglah masa refleksi. O,yeah refleksi. Saat ini lah aku bisa berpikir lebih jernih, lebih sehat, lebih wise. Aku selalu butuh waktu untuk meredakan segala emosi ku, dan aku percaya banyak orang juga begitu. Di fase resolusi ini (semisal aku lagi marah), aku mulai bisa melihat apa yang harus kulakukan. Note this. Lihatlah apa yang sekarang bisa kita lakukan, bukan menyalahkan apa yang telah terjadi atau berandai-andai “mestinya gini, mestinya gitu”. Leave the past, live the present, see the future. O, yeah. Sounds so wise. Ahahahaa :))

Jadi itulah dia alasan mengapa aku mencintai jenis musik ini. Banyak orang yang tidak mengerti kenapa ada orang yang suka musik-musik keras. Di sisi lain, ada banyak orang yang tergila-gila dengan musik ini. Ini mungkin hanya masalah selera. Tapi untukku, ada banyak hal lebih di dalamnya.

Eustress? Distress? Diam atau Bergerak?

Haii! Postingan kali ini adalah 1 dari 5 challenges yang sengaja kurangkai untuk hari ini sebagai pemicu semangat. Biar produktif. Hahahaa. Tantangan pertama adalah mencuci baju. Terus ada mengencangkan rantai motor, mengerjakan sub-chapter skripsi, membaca 2 chapter novel yang udah lama kutinggalkan, dan yang terakhir menulis sesuatu di sini.

O’right! Here we go!

Kita awali dengan lusa lalu. Lusa lalu aku kumpul sama teman-teman seperjuangan KKN alternatif di Filipina. Pembimbing kami yang gahol itu juga datang. Mengobrollah kami, 4 jam non-stop! Kami memang kuat ngobrol lama. Apalagi masalah-masalah yang ‘dalem’. Sampai di suatu momen, ‘mbak’ pembimbing kami bertanya padaku: “Pin, kamu kok tambah kurus aja sih? Stres ya?” dan aku hanya membisu sementara.

Ini ada sedikit contoh quotation dari inner monologue-ku:

“Stres? Mungkin. Tapi apa jangan-jangan udah tahap depresi? Eh, emang stres sendiri itu apa sih? Mungkin ini cuma masalah biasa, sehari-hari.Tapi …? Ah, nggak lah … Tapi mungkin …? Gitu aja terus ampe beneran stres! Yoh sekarang ngerjain yang lebih penting. Tapi gimana caranya gerak pas lagi stres gini? Manalagi kalo dikerjain palingan hidup cuma gitu-gitu aja. Duh muak!! Muak!! Muak!! Lhaa trus gimana?”

Punya pikiran gini menyebalkan! Tapi pikiran gini yang banyak bawa pemahaman dan ide baru. Taktik baru. Model berpikir macam gini yang bikin aku masih hidup sampai sekarang? (Lhaa, bukannya mestinya malah tewas ya?) Hahahahaaa :)

Esok menjelang. Aku duduk-duduk di teras kost bersama kawanku yang anak kedokteran. Aku langsung lempar pertanyaan: “Mas, aku pengen gemuk deh. Piye yaa caranya?” dengan harapan dia menjawab dengan skill kedokterannya.

Jawabannya mantap: “Kamu stres ya?”

Aku melongo. Hell?! “Mmm, mungkin yaa. Stres bikin kurus toh?”

Dia berkata: “Tergantung. Eustress atau Distress?!”

Nah disinilah aku mendapat ide untuk berbagi pada kalian, sahabat pena yang telah menjadi sahabat tombol keyboard. Hahahaaa … jayus.

Distress adalah bentuk stres yang bikin kita merasa jatuh, depresi, hidup ini gak berguna dan sia-sia. Trus ujung-ujung bunuh diri. Mudah-mudahan nggak sih. Pinter dikit dong. Bolak-balik cara pikir!

Dan Eustress, bentuk stres yang bikin kita merasa tertantang. Eustress ini sifatnya membangun, membentuk karakter kita menjadi lebih kuat, dan at least mengarahkan energi stres ke hal yang lebih positif ketimbang mikir “bunuh dirinya gantung diri atau nyemplung ke jurang ya?”

Jadi udah tau yang lebih baik, kan?

Bentuk Eustress-ku (mungkin) adalah muak. Kalo udah muncul, bisa produktif karena dorongan semangat. Semangat muak. Tambah adrenaline rush malah jadi tambah seru. Contoh kasus nih. Aku pernah suatu hari merasa hampir seminggu ketimpa sial terus. Satu! Aku ceroboh, nghilangin tutup pompa sepeda punya temanku. Dua! Aku tunda-tunda terus skripsiku. Males ngerjain. Malah jadi dihantui deadline tiap hari. Tiga! Aku bikin salah di perpus pas mau pinjam buku. Memalukan! Empat! Hari-hariku kosong. Terus teman-teman kost waktu itu mungkin lagi pada sibuk sendiri saat aku sebenarnya perlu dorongan semangat. Aku coba hubungin teman-teman lain untuk sekedar kumpul ngobrol, eh pada gak bisa semua. Aku yang extrovert tapi lingkar pergaulannyanya gak luas ini lumayan cepat stres kalo kurang pemenuhan kebutuhan kehidupan sosial alias kurang ngobrol. Trus yang paling gak penting, lima!: aku single, coy!

Saat bangun pagi aku bertanya untuk apa aku bangun lagi? Trus nanti malem tidur lagi cuman buat nghidupin hari-hari yang gini-gini terus. Di sini nih aku mengkombinasi segala energi emosi yang terpendam. Kuluapkan saja! (Kalimat-kalimat selanjutnya bersifat sementara) Aku benci hidupku! Aku benci teman-temanku! Aku benci gak punya pacar! Aku benci dihantui deadline! Aku bosan ke kampus ngulang mata kuliah! Aku gak bodoh kok! Aku mau cepet kerja cari uang, bosen kayak gini terus! Harus ngapain?! Perpus-skripsi-pendadaran-wisuda. Yoh! Tak kerjain! Aku harus apa nih?! Siapin teori?! Ada perpus, aku cus, SEKARANG! Dan benar saja seminggu itu aku lumayan produktif mengerjakan 1 BAB skripsi. Yah lumayan. Trus sekarang udah balik ke normal state. Leha-leha lagi? No! Udah terlanjur mulai. Ini harus selesai. Segera.

Stres bisa menjadi hal yang sangat memuakkan. Tak jarang banyak orang stres yang berujung pada masalah karakter dan kejiwaan seperti anxiety disorder atau depresi. Yang extreme adalah saat mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup. Tragis, kawan! Kalo aku sampai bunuh diri, lebih baik ayahku dulu beli mobil baru saja daripada spending berjuta-juta untuk menghidupiku. Jadi, yuk kita arahkan energi stres itu ke hal-hal yang lebih berguna. Ingatlah bahwa roda kehidupan selalu berputar, dan itu benar terjadi. Saat berada di bawah, jangan lupa kita pernah di atas. Saat berada di atas, ingat juga kita pernah jatuh dan mencoba bangkit. Life is about balance. 

Masalah Negeriku, Masalahku.

Hai. Kali ini aku ingin berefleksi dalam tulisan. Ini akan menjadi tulisan yang panjang dan mungkin membosankan. Aku akan bercerita tentang hal-hal disekelilingku. Mohon jika kamu tidak ingin tahu opini dan emosi saya jangan memaki ya. Ini sebuah kebebasan berpikir.

Aku buka Line, messengerku, mengecek mungkin akan ada seseorang yang ingin berbincang. Tidak ada. Aku memang bukan seorang yang banyak teman. Lalu aku buka fitur timeline. Disana aku lihat banyak orang posting hal-hal yang menurutku tidak dewasa seperti mencaci dan berbicara yang tak penting seolah-olah mencari perhatian agar ada yang menghubunginya. Contoh: “Mas, bagi kuenya dong(dengan meng-attach sebuah sticker).” Aku tahu sebagian besar dari mereka ini adalah orang yang jika kutemui di dunia nyata hanya akan tersenyum salah tingkah dan membisu sambil menunduk. Namun dunia maya ‘membantu’ mereka tampil lebih percaya diri. Aku pernah seperti mereka; meng-address-kan hujatan pada orang-orang tertentu, mengangkat masalah personal dengan pacar, dll. Namun aku sudah sampai pada titik dimana aku merasa hal itu pantas dibicarakan secara luas. Kini aku lebih sering berbagi semangat dan pemikiran positif seperti: “Gratitude really helps. Thanks, gratitude“. Aku saat itu mencoba berkata pada orang-orang yang melihat timeline-ku untuk selalu ingat berterimakasih dan bersyukur karena memang kurasa itu hal yang baik.

Aku buka Facebook, sebuah media sosial yang entah mengapa mulai ditinggalkan(kemungkinan karena sudah ‘lawas’. Mereka cenderung pindah ke Path.) Disana aku melihat temanku yang ‘relijius’ berkata seolah hanya Tuhan-nya yang paling benar. Motivator lain seakan dipandang sebagai pemuja setan yang tak tahu berterimakasih atas pemberian karunia dari Tuhan-dari-agamanya. “The hell?” pikirku. Aku bukan seorang believer, tapi aku bukan sinner. Sejak SMA(kini kuliah) aku berhenti percaya Tuhan benar ada. Mungkin kau anggap ini lucu, kawan. Aku saat itu meminta garam pada Tuhan untuk makananku yang kurang asin namun garam itu tak pernah datang. Langsung saja aku pikir Tuhan itu tak ada. Dangkal? Memang. Tapi dimana dia saat orang-orang mulai berperang satu sama lain? Dimana dia saat ada seorang yang benar-benar taqwa memohon kesembuhan ibunya yang sedang sakit? Aku pernah berbincang dengan seorang kawan psikologi yang menurutku pemikirannya sangat terbuka tentang eksistensi Tuhan dan betapa banyak kemungkinan bahwa Tuhan ada dan Tuhan tidak ada. Let’s skip the existence part. Yang aneh, jika Tuhan benar ada, mengapa kita sering menjatuhkan beban padanya? Aku pernah menonton sebuah acara audisi di TV. Saat anaknya masuk ruang audisi, ibunya sibuk berdoa meminta Tuhan agar anaknya lolos audisi. “The hell?“(part2) pikirku. Kalau Tuhan benar ada, dia pasti sedang sibuk mencoba menghentikan perang, menolong orang-orang yang kelaparan, membebaskan pembantu-pembantu yang terjerat human trafficking. Sumpah, aku heran.

Aku tonton TV. Aku lihat mereka beramai-ramai meminta pemerintah turun tangan untuk masalah banjir atau apalah. Mereka minta bantuan, mereka minta agar bencana banjir tidak terjadi lagi, mereka minta pemerintah mengurus masalah perlindungan anak. Kasihan pak gubernur. Padahal sungai-sungai dan drainase sudah diusahakan, eh warganya buang sampah sembarangan lagi. Nanti banjir lagi, nuntut pemerintah lagi. Menurutku kita tidak perlu terlalu berpatok pada hukum dan aturan. Hal itu masih terlalu jauh untuk pemikiran kita. Cobalah, kawan, kau duduk diperempatan yang ada lampu lalu lintasnya dan lihat orang-orang asik melanggar aturan, dan marah-marah saat diklakson, dan kabur dari polisi saat akan ditilang. Cobalah kau lihat mereka yang menolak direlokasi demi keuntungan jualannya sendiri-sendiri. Cobalah kau perhatikan orang-orang yang ditegur dosen tapi malah cekikikan dan tidak malu dan malah mengata-ngatai dosen tersebut saat situasinya sudah aman. Cobalah kau lihat orang yang menerobos antrean di mini market dengan alasannya “kan saya cuma beli rokok”. Dan cobalah yang lain-lain.

Aku pernah nonton satu momen saat pak Jokowi menjawab pertanyaan “jika bisa, apa yang ingin bapak rubah dari Jakarta?” dan ia menjawab “orang-orangnya.” Ain’t it nice? Dia tahu akar permasalahan kita ini, bangsa ini, bukan hukumnya kok. Warganya. Lalu aku sempat juga menonton pak Karni Ilyas saat dia mendesak pihak pelaku dengan tegas. Dia saat itu berani memojokkan yang bersalah saat pihak polisi saja suaranya bergetar saat menjawab pertanyaannya. Dan aku lega kita masih punya orang-orang seperti ini. We need more people like this.

Aku dengar musisi jalanan bermain gitar sambil meniup harmonikanya memainkan lagu dari The Beatles dengan sangat piawai. Aku dengar rekaman band-band indie yang bersemangat. Dan aku tonton manusia-manusia berseragam serba hitam ala rocker bernyanyi lagu ‘galau’ sepanjang hari di TV dengan pattern lagunya yang sampai di luar kepalaku: Verse1-Chorus-Verse2-Chorus-Interlude-Chorus(2x). Seni dari hongkong!? Dunia permusikan kita tenggelam, kawan. Tenggelam karena pihak-pihak yang hanya mementingkan keuntungan. Dan acara musik di TV kita tidak mengedukasi sama sekali. Lihat apa jadinya adik-adik kita sekarang? Kecil-kecil lagu cinta. Paling tidak lagu cinta keluarga atau lagu yang bersemangatlah. Lha ini apa?! Galau putus cinta tiap hari! Pantas saja topik yang selalu muncul di awal perbincangan dengan teman biasanya bertema galau cinta. Dimana apresiasi pada mereka, sang musisi yang sesungguhnya, itu? Ingat W.S Rendra? Sorry to say but jika dia tidak meninggal dia tak akan dikenal kok. I’m really sure. Aku juga pernah menonton konser dan saat itu band utamanya belum naik panggung. Band pembukanya adalah band yang sangat bagus dan sedikit sekali(termasuk aku) yang bertepuk tangan. Saat band utama bermain, betapa antusias penontonnya memberi applause. Huh! Apresiasi hanya pada yang sudah ada di atas. Ayolah. Hargai mereka, kawan.

Masih banyak sekali hal yang ingin kuceritakan namun sayang masih ada hal yang harus kukerjakan. Aku sedang mencoba menghargai waktu. Hargai waktumu juga, kawan. Mudah-mudahan tulisan ini bisa berguna secara nyata bagi pembacanya. See yaa!

Pelajaran Dari Abu

Hai! Ternyata sudah sekian lama aku gak nulis ya. Berkat abu yang masih beredar, aku akhirnya tergerak untuk menulis lagi. Hahahaa. Inilah hikmah dari hujan abu Kelud.

Tak heran di situasi seperti ini banyak orang yang mengeluh tentang betapa kotornya teras dan kamar mereka atau betapa malasnya mereka bepergian, terlebih lagi yang mengendarai motor, karena harus memakai masker demi kesehatan. Ada pula yang menganggap bersih-bersih itu adalah rugi karena toh nantinya akan kotor lagi.
Image
Aku menyayangkan ini. Pikiran negatif seringkali merasuki kita seakan kita tidak cukup pintar untuk berpikir bahwa selalu ada jalan, selalu ada pelajaran baru. Menurutku kita seharusnya bisa mengakali akal kita sendiri, memetik pelajaran dari kejadian.

Suatu hari di tengah tebalnya abu, aku berkendara berkeliling kota. Aku melihat di beberapa sudut jalan ada  beberapa kelompok orang yang bekerja bersama membersihkan debu dari jalanan. Ada yang menyiram air, mengeruk abu yang telah menjadi lumpur, bersiap dengan karung-karung kosong untuk menampung lumpur itu, ada juga beberapa yang membantu mengatur lalu lintas agar jalanan tetap lancar. Hal sepele? Tentu tidak. Mereka dapat bekerja sama dan mengenal satu sama lain lebih baik lagi karena adanya musibah ini. Make sense? Yes. Hal-hal kecil seperti ini yang mungkin luput dari mata kita. Ada baiknya kita menggunakan momen ini untuk mendekatkan diri pada dunia sekitar yang sering kita abaikan.

Senang rasanya melihat mereka yang tak putus semangat, bahkan tanpa pamrih, bekerja agar lingkungan bersih walaupun kita semua tahu debu-debu nanti akan datang mengotori lagi. Maaf jika keluar topik sedikit tapi ini salah satu rasa banggaku menjadi orang Indonesia. Saat ada kejadian seperti ini, orang-orang kita pasti bahu-membahu saling menolong.

Aku tak mau berdiam diri. Aku turut ambil bagian walaupun mungkin hanya sekedar membersihkan kost-an bersama seorang tukang yang bekerja untuk majikan kost. Dia awalnya melarangku ikut bekerja namun aku tetap saja mengambil selang dan menyiram air. Aku malu. Aku masih muda dan di sini situasinya seperti ini. Tenagaku akan sia-sia jika aku hanya berdiam di kamar. Setidaknya ini yang bisa kuberikan.

Aku juga gunakan momen ini untuk ‘PDKT’ dengan teman-teman kos yang sebelumnya tidak begitu kukenal. Kami makan bersama dan banyak berbincang. Paling tidak kini kami menjadi lebih mengenal. Bukankah ini berharga?

Sempat juga aku perhatikan anak-anak muda mengambil foto bersama abu yang bertebaran. See? Bukankah mereka mencoba melihat musibah ini dari sudut pandang yang lebih baik? Ya!

Sekianlah hal yang ingin aku bagikan. Aku tetap berharap debu-debu ini segera menghilang bersatu dengan tanah. After all, aku bersyukur kejadian ini ada karena aku dapat melatih diriku untuk melihat hal baik di balik hal yang dianggap buruk.
Image

Tips Mixing Gitar Bass

Image

Setelah sekian lama gak nulis akhirnya sekarang datang juga niat untuk nulis lagi. Hahaa. Mau share ilmu baru nih. Di kesempatan kali ini aku mau share ilmu per-Bass-an, hahahaa. Okay, here we go.

Bass itu adalah jantung dari musik. Gak jelas terlihat tapi mampu menghidupkan dengan alunan permainannya. Menganalogikan Bass sebagai sebuah jantung, berarti diperlukan sebuah kontrol agar musik itu enak terasa. Jantung yang sehat dengan detakan yang terkontrol menciptakan hidup yang sehat. Begitu juga dengan Bass. Cara mengontrol Bass?

Filtering First!

HPF dulu. Start-lah dari 50/60Hz. Biasanya dulu aku selalu HPF di sana. Tapi belakangan lebih suka di 80-100Hz. Why? There’s reason for this. Jadi untuk simulasi amp aku pake amplitube3. Untuk Bass biasanya aku pake Gallien-Krueger. Nah di sana ada tombol ‘Low-Cut’ nya which means it’ll remove the low-end. Aku coba pake setting itu dan agak heran karena low-end yang terkuras terbilang lebih dari 50/60Hz. Kemungkinan sih di 80-100Hz. So that’s why. Kenapa sih di HPF btw? Biar low-end nya gak lebay lah. Sekalian make it tight, bikin suaranya tambah kenceng dan padet. Mau tak analogikan? Seperti otot di perut. Semakin kencang dan padet semakin seksi kan? Prefer itu kan? Hahahaa :p

Trus LPF. Biasanya aku pasang di 4-6KHz. Bass juga alat musik coy, jangan pelit. Kasi dia bernafas. Ingat yang penting gak lebay :D

EQing Bass

Bayangin aja mainin kunci G dengan suara yang merdu terus pindah ke E tapi suaranya semrawut. Yaaakh! Ini lah salah satu dari Bass(dan juga alat musik yang lain) yang perlu diatur. EQ sebenarnya memang tergantung selera. 200-350Hz! Frekuensi yang menyebalkan! Bunyinya itu loh, bikin speaker serasa bengkak. Di sini Bass berantem sama vokal. Berilah mereka tempatnya masing-masing biar rukun dan sejahtera. Biasanya aku cut di sini sekitar 4-6Db. Jangan takut ng-cut (mutusin) kalo emang udah gak cocok. Hahaha. Lanjut! 800Hz-1.2KHz. Experts bilang sih di sini frekuensi yang memberi Bass sebuah definisi, sebuah karakter. Emang sih. Aku sering bercengkrama sama musik-musik cadas yang biasanya midtone gitarnya dikuras. Nah, Bass berperan ngasi midtone dan definisinya di sini. Next, 2-4KHz. Dengan amp yang settingan high-nya menunjukkan lebih dari pukul 12 malam, dan dengan dipadu sedikit cita rasa distorsi, frekuensi ini memberi Bass kekuatan untuk bersaing dengan gitar dan vokal. Boosting di sini ngasi untung Bass untuk musik cadas. Sekali-sekali boleh dong Bass unjuk gigi. Hehehee

Compressing Bass

Compression, wiiiiih kompresiii!!! Rasio kompresi untuk Bass biasanya di 2.5-4:1. Untuk threshold, set agar Bass kena kompresi di setiap beat-nya. Ya, Bass di musik modern selalu bersifat stabil. Di sini peranan attack dan release penting. Bass musik modern selalu dalam keadaan terkompres. Settingan yang biasa tak pake: attack di 15-30ms(tergantung seberapa banyak punch yang diinginkan), release di 80-200ms. Ingat, sebelum Bass kembali ke normal state (kondisi sebelum dia kena kompres)-nya dia harus udah kena kompres lagi.

Steps mengolah track Bass yang biasa aku pake: EQ(Cutting)-Compression-EQ(Boosting). EQ untuk boosting emang cocok dipake setelah kompresi. Kenapa? EQ pertama kan tujuannya ng-cut frekuensi yang gak diinginkan, trus compression nantinya memukul mundur semua frekuensi. Kalo EQ untuk boosting di-apply sebelum compression, berarti nanti waktu kena kompresi frekuensi-frekuensi yang udah diatur sedemikian rupa agar menonjol malah kepukul mundur dong? Got it? Hope so :D

Okay, mudah-mudahan tips tadi cukup berkenan dan berguna ya. Akhirnya atas nama segenap crew yang bertugas saya ucapkan terimakasih dan …

SAMPAI JUMPA! Ttteeettteeetteetttt(bunyi soundtrack penutup berita)

Huahahahaaa. Leave me commentsSee yaa, guys!

Cowok, harusnya

Sebelum membaca, aku sarankan pembaca berbaik hati untuk membuka pikiran dan berbesar hati karena tulisan ini mungkin membuat para pembaca kesal. Ini hanya curahan pikiran, sebuah persepsi. Manusia bebas berpikir, katanya. So let me think my own way. Here we go.

Laki-laki. Aku sering merasa kecewa, sedih, marah, kesal dsb melihat tingkah laki-laki. Ini bukan tentang laki-laki/cowok yang “melambai”. Aku gak pernah menyalahkan pilihan cowok menjadi seseorang yang sering dicap “banci” oleh kebanyakan orang. Justru kadang aku kagum karena mereka berani nentuin pilihannya, jalan hidupnya. Oke, enough about that. So what are we going to discuss in this page? Ini tentang cowok yang mengaku dirinya cowok.Image

Kata orang, cowok itu identik dengan kata macho, tegas, berani dan sebagainya yang bersifat maskulin. Tak heran banyak cowok yang sibuk ng-gym untuk mencari bentuk badan yang mereka inginkan: terlihat besar, kekar, powerful, and most importantly, macho. Terkesan sangar dan, tanpa diragukan lagi, berani. Tapi, apa iya?

Tulisan ini awalnya terinspirasi dari tayangan berita yang kulihat di TV. Aku lihat ada bentrok antar 1 desa dan desa tetangganya. Mereka membawa senjata; senapan angin, senjata tajam dan batu. Ya, mereka sibuk saling lempar batu. Ini mengingatkanku pada jaman SMA-ku, saat dimana seringkali aku menyaksikan temanku berduel 1 lawan 1, tanpa senjata, tanpa bantuan. Betapa jantannya mereka. Dan betapa memalukannya orang-orang desa yang kusebut tadi. Mereka tidak lebih hebat dari anak-anak SMA yang doyan berantem demi memperebutkan cewek. Bukan tawuran loh. Tawuran itu cuma buat pengecut. Kenapa? Karena beraninya keroyokan, karena beraninya saat bersama teman-teman.

Mungkin ada pembaca tulisan ini yang kemudian berpikir: “ini tulisan cuma mau ngomongin berantem ya?” No! absolutely no! a big NO! Berantem itu adalah salah satu tanda seseorang tak bisa menguasai emosi. Ya, emosi itu memang memberatkan pikiran. Tapi, bukankah sesuatu yang bersifat berat itu, katanya, tanggung jawab cowok? Jadi jika kita gak mampu menahan diri dari emosi, apa pantas kita disebut cowok? Terlebih lagi beraninya cuma saat beramai-ramai. Gimana? Is it knocked some senses?

Cowok itu harusnya jadi pemberani. Saat ada masalah, cowok harus maju ke depan hadapan masalahnya dengan jantan, tanpa perantara, tanpa basa-basi, tapi dengan otak. Cowok harusnya bisa menentukan apa yang terbaik untuknya. Gak perlu nanya: “terus ini gimana?” “terus nanti aku sama siapa?” “terus kalo nanti aku rugi/sakit/gak bisa, gimana?” Jawabannya: “Terserah!” Mau nantinya begini begitu, sakit, rugi, bahkan mati, terserah. Yang penting kita, cowok, harus berani nentuin pilihan. Takut resiko? Jangan jadi cowok! Takut maju sendiri? Go cry to your mommy! Resiko itu akan berbuah pengalaman. Itu yang akan mengasah kita. Jadi, berani ambil tantangan?

Cowok, kalo mengaku cowok, jadilah sosok yang berani dan tegas, dan pintar kalo memungkinkan. Kalo kamu punya pacar dan dia bertanya: “kita mau kemana hari ini?”, jawablah dengan tegas: “ke sini/ke situ” bukannya “terserah kamu, sayang.” Cewek itu perlu cowok untuk mimpin mereka. Jadi pimpinlah mereka. Tegaslah, hadapin masalahmu secara face-to-face, bikin keputusan, gak usah basa-basi karena kita bukan cewek, jantanlah. Cowok harusnya gitu.

Tak hanya tegas, cowok juga harus tegar. Aku jadi ingat salah satu sahabatku. Dia sebulan lalu putus dari seorang cewek setelah berpacaran lebih dari 3 tahun. Aku tahu betapa saling cintanya mereka dulu. Tapi tahu kah kalian apa yang dia bilang saat bercerita padaku? “besok aku cari yang baru.” That easy! Semudah itu! Iya betul, tegarlah seperti itu. Cowok itu harus seperti karang di tengah lautan yang berkata: “hantam aku, samudra!” Aku dan sahabatku ini sekarang sedang sendiri tanpa pacar. Beberapa kali kami disindir karena masih sendiri. Peduli amat! We have life to live. Gak cuma cewek. Kami gak mau nurunin standar. Kami gak mau terpaksa cari pacar cuma karena diejek, terlebih lagi kalo cuma untuk pemuasan kebutuhan si “adik”, hahahahaa.

Finally, wahai cowok, jadilah cowok tulen. Jangan banyak alasan, jangan takut. Itu saja.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.