Skip to content

Di Balik Sebuah Preferensi

Kapan hari ada teman yang tanya: “Pin, preference musikmu apa sih? Suka lagu-lagu yang gimana?”

Putar-putar otak, aku coba sedikit mengelaborasi jawabanku: “Hmmm.. Hardcore. Yang keras. Tapi bukan berarti selalu yang screaming gitu, dan kayaknya kamu gak tau deh.”

Sesampai di kost, aku kepikiran itu lagi. Benar juga,ya. Lagu-lagu yang aku suka bukan lagu-lagu komersil. Yang terkenal mungkin hanya satu dua. Kenapa ya aku suka musisi-musisi ini?

Aku sadari aku punya preferensi musik yang beda. Aku tidak terlalu mengikuti perkembangan musik yang lagi populer, yang lagi sering-seringnya dimainkan di radio, atau yang jadi top ten. Sering aku merasa malu karena aku tidak banyak tahu tentang lagu-lagu yang lagi hot-hot nya ini, dan saat bersama teman-teman yang ramai-ramai bernyanyi aku hanya diam. Beruntung aku mengerti yang namanya ketukan. Yah, jadi bisa ikut partisipasi dengan air-drumming. Hahahaa :D

Oliver Sykes, si manis yang pendiam namun sangar.

Sebenarnya aku bisa saja menyukai semua jenis musik. Namun aku punya seleraku sendiri. Musik keras. Lagu keras. Teriak-teriak. Hmmm. Aku suka lagu-lagu karya Kellin Quinn dari Sleeping With Sirens, Jeremy McKinnon-nya A Day to Remember, Tim Lambesis-nya As I Lay Dying, atau screaming-nya Austin Carlisle dari Of Mice and Men, atau teriakan bernadanya Oliver Sykes dari Bring Me The Horizon. Masih ada juga yang lain, macam; Pierce The Veil, Parkway Drive, Memphis May Fire, duuh banyak!! Hahahaa.

Aku mulai mendengar musik keras saat aku SD. Linkin Park. Screaming-nya Chester, vokalisnya yang saat itu masih doyan pake celana kotak-kotak merah (hihihii), mantep bener! Trus waktu SMP aku mulai dengerin Avenged Sevenfold waktu Unholy Confession baru-baru nge-hit. Ada juga Killswitch Engage yang lagunya dipakai untuk OST-nya Resident Evil: Apocalypse. Ada juga Lamb of God, dan Slipknot yang mewajibkan anak-anak gahol jaman itu manggung pakai topeng. Hahahaa.

Image

Aksi panggung A Day to Remember.

Okay, that’s enough! Dan ijinkan saya menjelaskan alasan why I love these music so much.

Pertama, mereka bertenaga. Mereka berenergi dan bersemangat. Bayangkan saja kerongkongan itu dipakai teriak-teriak setiap hari, dan kaki drummer-nya mesti ber’lari’ di atas pedal, dan front-liners nya lari-lari, jingkrak-jingkrak, manggut-manggut. Terus penonton-nya pada bikin lingkaran besar, ber-mosh pit ria. Semangat sekali. Muda sekali. Yaa, muda. Aku masih muda. Diriku ini harus kupakai semaksimal mungkin. Ini masanya self-actualization (Hello Dr. Maslow, halo psikologi, hahaa :p).

Kedua, mereka keras. Keras seperti batu, seperti baja. Hidup ini keras, kawan. Ini cara aku memandang hidup ini. Bahasa yang dipakai dalam liriknya termasuk kasar dan tak beretika. Hidup pun begitu. Banyak lirik dalam lagu-lagu ini yang bersifat mengata-ngatai, menyumpahi, menjatuhkan, dan arogan. Bukankah itu yang kita sering pikirkan dalam diri kita? Amarah seringkali kita sembunyikan karena kita terikat stereotype (oh, I hate stereotype!). Lalu kita terlalu mengandalkan asumsi dan perasaan. Merasa seseorang jengkel pada kita padahal mungkin tidak, mungkin sebenarnya mereka merasa sungkan atau apalah. Jadi, menurutku lagu-lagu ini jujur, dan merepresentasikan bahwa hidup itu keras.

Image

Parkway Drive berfoto dengan penonton di akhir konser.

Ketiga. Karena mereka ‘marah’ apa adanya, emosi jadi terluapkan dan meledak-ledak. Hei, segala emosi itu harus diekspresikan loh. Dan seseorang tidak akan selamanya marah. Akan ada saatnya emosi itu mereda. Dan datanglah masa refleksi. O,yeah refleksi. Saat ini lah aku bisa berpikir lebih jernih, lebih sehat, lebih wise. Aku selalu butuh waktu untuk meredakan segala emosi ku, dan aku percaya banyak orang juga begitu. Di fase resolusi ini (semisal aku lagi marah), aku mulai bisa melihat apa yang harus kulakukan. Note this. Lihatlah apa yang sekarang bisa kita lakukan, bukan menyalahkan apa yang telah terjadi atau berandai-andai “mestinya gini, mestinya gitu”. Leave the past, live the present, see the future. O, yeah. Sounds so wise. Ahahahaa :))

Jadi itulah dia alasan mengapa aku mencintai jenis musik ini. Banyak orang yang tidak mengerti kenapa ada orang yang suka musik-musik keras. Di sisi lain, ada banyak orang yang tergila-gila dengan musik ini. Ini mungkin hanya masalah selera. Tapi untukku, ada banyak hal lebih di dalamnya.

Eustress? Distress? Diam atau Bergerak?

Haii! Postingan kali ini adalah 1 dari 5 challenges yang sengaja kurangkai untuk hari ini sebagai pemicu semangat. Biar produktif. Hahahaa. Tantangan pertama adalah mencuci baju. Terus ada mengencangkan rantai motor, mengerjakan sub-chapter skripsi, membaca 2 chapter novel yang udah lama kutinggalkan, dan yang terakhir menulis sesuatu di sini.

O’right! Here we go!

Kita awali dengan lusa lalu. Lusa lalu aku kumpul sama teman-teman seperjuangan KKN alternatif di Filipina. Pembimbing kami yang gahol itu juga datang. Mengobrollah kami, 4 jam non-stop! Kami memang kuat ngobrol lama. Apalagi masalah-masalah yang ‘dalem’. Sampai di suatu momen, ‘mbak’ pembimbing kami bertanya padaku: “Pin, kamu kok tambah kurus aja sih? Stres ya?” dan aku hanya membisu sementara.

Ini ada sedikit contoh quotation dari inner monologue-ku:

“Stres? Mungkin. Tapi apa jangan-jangan udah tahap depresi? Eh, emang stres sendiri itu apa sih? Mungkin ini cuma masalah biasa, sehari-hari.Tapi …? Ah, nggak lah … Tapi mungkin …? Gitu aja terus ampe beneran stres! Yoh sekarang ngerjain yang lebih penting. Tapi gimana caranya gerak pas lagi stres gini? Manalagi kalo dikerjain palingan hidup cuma gitu-gitu aja. Duh muak!! Muak!! Muak!! Lhaa trus gimana?”

Punya pikiran gini menyebalkan! Tapi pikiran gini yang banyak bawa pemahaman dan ide baru. Taktik baru. Model berpikir macam gini yang bikin aku masih hidup sampai sekarang? (Lhaa, bukannya mestinya malah tewas ya?) Hahahahaaa :)

Esok menjelang. Aku duduk-duduk di teras kost bersama kawanku yang anak kedokteran. Aku langsung lempar pertanyaan: “Mas, aku pengen gemuk deh. Piye yaa caranya?” dengan harapan dia menjawab dengan skill kedokterannya.

Jawabannya mantap: “Kamu stres ya?”

Aku melongo. Hell?! “Mmm, mungkin yaa. Stres bikin kurus toh?”

Dia berkata: “Tergantung. Eustress atau Distress?!”

Nah disinilah aku mendapat ide untuk berbagi pada kalian, sahabat pena yang telah menjadi sahabat tombol keyboard. Hahahaaa … jayus.

Distress adalah bentuk stres yang bikin kita merasa jatuh, depresi, hidup ini gak berguna dan sia-sia. Trus ujung-ujung bunuh diri. Mudah-mudahan nggak sih. Pinter dikit dong. Bolak-balik cara pikir!

Dan Eustress, bentuk stres yang bikin kita merasa tertantang. Eustress ini sifatnya membangun, membentuk karakter kita menjadi lebih kuat, dan at least mengarahkan energi stres ke hal yang lebih positif ketimbang mikir “bunuh dirinya gantung diri atau nyemplung ke jurang ya?”

Jadi udah tau yang lebih baik, kan?

Bentuk Eustress-ku (mungkin) adalah muak. Kalo udah muncul, bisa produktif karena dorongan semangat. Semangat muak. Tambah adrenaline rush malah jadi tambah seru. Contoh kasus nih. Aku pernah suatu hari merasa hampir seminggu ketimpa sial terus. Satu! Aku ceroboh, nghilangin tutup pompa sepeda punya temanku. Dua! Aku tunda-tunda terus skripsiku. Males ngerjain. Malah jadi dihantui deadline tiap hari. Tiga! Aku bikin salah di perpus pas mau pinjam buku. Memalukan! Empat! Hari-hariku kosong. Terus teman-teman kost waktu itu mungkin lagi pada sibuk sendiri saat aku sebenarnya perlu dorongan semangat. Aku coba hubungin teman-teman lain untuk sekedar kumpul ngobrol, eh pada gak bisa semua. Aku yang extrovert tapi lingkar pergaulannyanya gak luas ini lumayan cepat stres kalo kurang pemenuhan kebutuhan kehidupan sosial alias kurang ngobrol. Trus yang paling gak penting, lima!: aku single, coy!

Saat bangun pagi aku bertanya untuk apa aku bangun lagi? Trus nanti malem tidur lagi cuman buat nghidupin hari-hari yang gini-gini terus. Di sini nih aku mengkombinasi segala energi emosi yang terpendam. Kuluapkan saja! (Kalimat-kalimat selanjutnya bersifat sementara) Aku benci hidupku! Aku benci teman-temanku! Aku benci gak punya pacar! Aku benci dihantui deadline! Aku bosan ke kampus ngulang mata kuliah! Aku gak bodoh kok! Aku mau cepet kerja cari uang, bosen kayak gini terus! Harus ngapain?! Perpus-skripsi-pendadaran-wisuda. Yoh! Tak kerjain! Aku harus apa nih?! Siapin teori?! Ada perpus, aku cus, SEKARANG! Dan benar saja seminggu itu aku lumayan produktif mengerjakan 1 BAB skripsi. Yah lumayan. Trus sekarang udah balik ke normal state. Leha-leha lagi? No! Udah terlanjur mulai. Ini harus selesai. Segera.

Stres bisa menjadi hal yang sangat memuakkan. Tak jarang banyak orang stres yang berujung pada masalah karakter dan kejiwaan seperti anxiety disorder atau depresi. Yang extreme adalah saat mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup. Tragis, kawan! Kalo aku sampai bunuh diri, lebih baik ayahku dulu beli mobil baru saja daripada spending berjuta-juta untuk menghidupiku. Jadi, yuk kita arahkan energi stres itu ke hal-hal yang lebih berguna. Ingatlah bahwa roda kehidupan selalu berputar, dan itu benar terjadi. Saat berada di bawah, jangan lupa kita pernah di atas. Saat berada di atas, ingat juga kita pernah jatuh dan mencoba bangkit. Life is about balance. 

Masalah Negeriku, Masalahku.

Hai. Kali ini aku ingin berefleksi dalam tulisan. Ini akan menjadi tulisan yang panjang dan mungkin membosankan. Aku akan bercerita tentang hal-hal disekelilingku. Mohon jika kamu tidak ingin tahu opini dan emosi saya jangan memaki ya. Ini sebuah kebebasan berpikir.

Aku buka Line, messengerku, mengecek mungkin akan ada seseorang yang ingin berbincang. Tidak ada. Aku memang bukan seorang yang banyak teman. Lalu aku buka fitur timeline. Disana aku lihat banyak orang posting hal-hal yang menurutku tidak dewasa seperti mencaci dan berbicara yang tak penting seolah-olah mencari perhatian agar ada yang menghubunginya. Contoh: “Mas, bagi kuenya dong(dengan meng-attach sebuah sticker).” Aku tahu sebagian besar dari mereka ini adalah orang yang jika kutemui di dunia nyata hanya akan tersenyum salah tingkah dan membisu sambil menunduk. Namun dunia maya ‘membantu’ mereka tampil lebih percaya diri. Aku pernah seperti mereka; meng-address-kan hujatan pada orang-orang tertentu, mengangkat masalah personal dengan pacar, dll. Namun aku sudah sampai pada titik dimana aku merasa hal itu pantas dibicarakan secara luas. Kini aku lebih sering berbagi semangat dan pemikiran positif seperti: “Gratitude really helps. Thanks, gratitude“. Aku saat itu mencoba berkata pada orang-orang yang melihat timeline-ku untuk selalu ingat berterimakasih dan bersyukur karena memang kurasa itu hal yang baik.

Aku buka Facebook, sebuah media sosial yang entah mengapa mulai ditinggalkan(kemungkinan karena sudah ‘lawas’. Mereka cenderung pindah ke Path.) Disana aku melihat temanku yang ‘relijius’ berkata seolah hanya Tuhan-nya yang paling benar. Motivator lain seakan dipandang sebagai pemuja setan yang tak tahu berterimakasih atas pemberian karunia dari Tuhan-dari-agamanya. “The hell?” pikirku. Aku bukan seorang believer, tapi aku bukan sinner. Sejak SMA(kini kuliah) aku berhenti percaya Tuhan benar ada. Mungkin kau anggap ini lucu, kawan. Aku saat itu meminta garam pada Tuhan untuk makananku yang kurang asin namun garam itu tak pernah datang. Langsung saja aku pikir Tuhan itu tak ada. Dangkal? Memang. Tapi dimana dia saat orang-orang mulai berperang satu sama lain? Dimana dia saat ada seorang yang benar-benar taqwa memohon kesembuhan ibunya yang sedang sakit? Aku pernah berbincang dengan seorang kawan psikologi yang menurutku pemikirannya sangat terbuka tentang eksistensi Tuhan dan betapa banyak kemungkinan bahwa Tuhan ada dan Tuhan tidak ada. Let’s skip the existence part. Yang aneh, jika Tuhan benar ada, mengapa kita sering menjatuhkan beban padanya? Aku pernah menonton sebuah acara audisi di TV. Saat anaknya masuk ruang audisi, ibunya sibuk berdoa meminta Tuhan agar anaknya lolos audisi. “The hell?“(part2) pikirku. Kalau Tuhan benar ada, dia pasti sedang sibuk mencoba menghentikan perang, menolong orang-orang yang kelaparan, membebaskan pembantu-pembantu yang terjerat human trafficking. Sumpah, aku heran.

Aku tonton TV. Aku lihat mereka beramai-ramai meminta pemerintah turun tangan untuk masalah banjir atau apalah. Mereka minta bantuan, mereka minta agar bencana banjir tidak terjadi lagi, mereka minta pemerintah mengurus masalah perlindungan anak. Kasihan pak gubernur. Padahal sungai-sungai dan drainase sudah diusahakan, eh warganya buang sampah sembarangan lagi. Nanti banjir lagi, nuntut pemerintah lagi. Menurutku kita tidak perlu terlalu berpatok pada hukum dan aturan. Hal itu masih terlalu jauh untuk pemikiran kita. Cobalah, kawan, kau duduk diperempatan yang ada lampu lalu lintasnya dan lihat orang-orang asik melanggar aturan, dan marah-marah saat diklakson, dan kabur dari polisi saat akan ditilang. Cobalah kau lihat mereka yang menolak direlokasi demi keuntungan jualannya sendiri-sendiri. Cobalah kau perhatikan orang-orang yang ditegur dosen tapi malah cekikikan dan tidak malu dan malah mengata-ngatai dosen tersebut saat situasinya sudah aman. Cobalah kau lihat orang yang menerobos antrean di mini market dengan alasannya “kan saya cuma beli rokok”. Dan cobalah yang lain-lain.

Aku pernah nonton satu momen saat pak Jokowi menjawab pertanyaan “jika bisa, apa yang ingin bapak rubah dari Jakarta?” dan ia menjawab “orang-orangnya.” Ain’t it nice? Dia tahu akar permasalahan kita ini, bangsa ini, bukan hukumnya kok. Warganya. Lalu aku sempat juga menonton pak Karni Ilyas saat dia mendesak pihak pelaku dengan tegas. Dia saat itu berani memojokkan yang bersalah saat pihak polisi saja suaranya bergetar saat menjawab pertanyaannya. Dan aku lega kita masih punya orang-orang seperti ini. We need more people like this.

Aku dengar musisi jalanan bermain gitar sambil meniup harmonikanya memainkan lagu dari The Beatles dengan sangat piawai. Aku dengar rekaman band-band indie yang bersemangat. Dan aku tonton manusia-manusia berseragam serba hitam ala rocker bernyanyi lagu ‘galau’ sepanjang hari di TV dengan pattern lagunya yang sampai di luar kepalaku: Verse1-Chorus-Verse2-Chorus-Interlude-Chorus(2x). Seni dari hongkong!? Dunia permusikan kita tenggelam, kawan. Tenggelam karena pihak-pihak yang hanya mementingkan keuntungan. Dan acara musik di TV kita tidak mengedukasi sama sekali. Lihat apa jadinya adik-adik kita sekarang? Kecil-kecil lagu cinta. Paling tidak lagu cinta keluarga atau lagu yang bersemangatlah. Lha ini apa?! Galau putus cinta tiap hari! Pantas saja topik yang selalu muncul di awal perbincangan dengan teman biasanya bertema galau cinta. Dimana apresiasi pada mereka, sang musisi yang sesungguhnya, itu? Ingat W.S Rendra? Sorry to say but jika dia tidak meninggal dia tak akan dikenal kok. I’m really sure. Aku juga pernah menonton konser dan saat itu band utamanya belum naik panggung. Band pembukanya adalah band yang sangat bagus dan sedikit sekali(termasuk aku) yang bertepuk tangan. Saat band utama bermain, betapa antusias penontonnya memberi applause. Huh! Apresiasi hanya pada yang sudah ada di atas. Ayolah. Hargai mereka, kawan.

Masih banyak sekali hal yang ingin kuceritakan namun sayang masih ada hal yang harus kukerjakan. Aku sedang mencoba menghargai waktu. Hargai waktumu juga, kawan. Mudah-mudahan tulisan ini bisa berguna secara nyata bagi pembacanya. See yaa!

Pelajaran Dari Abu

Hai! Ternyata sudah sekian lama aku gak nulis ya. Berkat abu yang masih beredar, aku akhirnya tergerak untuk menulis lagi. Hahahaa. Inilah hikmah dari hujan abu Kelud.

Tak heran di situasi seperti ini banyak orang yang mengeluh tentang betapa kotornya teras dan kamar mereka atau betapa malasnya mereka bepergian, terlebih lagi yang mengendarai motor, karena harus memakai masker demi kesehatan. Ada pula yang menganggap bersih-bersih itu adalah rugi karena toh nantinya akan kotor lagi.
Image
Aku menyayangkan ini. Pikiran negatif seringkali merasuki kita seakan kita tidak cukup pintar untuk berpikir bahwa selalu ada jalan, selalu ada pelajaran baru. Menurutku kita seharusnya bisa mengakali akal kita sendiri, memetik pelajaran dari kejadian.

Suatu hari di tengah tebalnya abu, aku berkendara berkeliling kota. Aku melihat di beberapa sudut jalan ada  beberapa kelompok orang yang bekerja bersama membersihkan debu dari jalanan. Ada yang menyiram air, mengeruk abu yang telah menjadi lumpur, bersiap dengan karung-karung kosong untuk menampung lumpur itu, ada juga beberapa yang membantu mengatur lalu lintas agar jalanan tetap lancar. Hal sepele? Tentu tidak. Mereka dapat bekerja sama dan mengenal satu sama lain lebih baik lagi karena adanya musibah ini. Make sense? Yes. Hal-hal kecil seperti ini yang mungkin luput dari mata kita. Ada baiknya kita menggunakan momen ini untuk mendekatkan diri pada dunia sekitar yang sering kita abaikan.

Senang rasanya melihat mereka yang tak putus semangat, bahkan tanpa pamrih, bekerja agar lingkungan bersih walaupun kita semua tahu debu-debu nanti akan datang mengotori lagi. Maaf jika keluar topik sedikit tapi ini salah satu rasa banggaku menjadi orang Indonesia. Saat ada kejadian seperti ini, orang-orang kita pasti bahu-membahu saling menolong.

Aku tak mau berdiam diri. Aku turut ambil bagian walaupun mungkin hanya sekedar membersihkan kost-an bersama seorang tukang yang bekerja untuk majikan kost. Dia awalnya melarangku ikut bekerja namun aku tetap saja mengambil selang dan menyiram air. Aku malu. Aku masih muda dan di sini situasinya seperti ini. Tenagaku akan sia-sia jika aku hanya berdiam di kamar. Setidaknya ini yang bisa kuberikan.

Aku juga gunakan momen ini untuk ‘PDKT’ dengan teman-teman kos yang sebelumnya tidak begitu kukenal. Kami makan bersama dan banyak berbincang. Paling tidak kini kami menjadi lebih mengenal. Bukankah ini berharga?

Sempat juga aku perhatikan anak-anak muda mengambil foto bersama abu yang bertebaran. See? Bukankah mereka mencoba melihat musibah ini dari sudut pandang yang lebih baik? Ya!

Sekianlah hal yang ingin aku bagikan. Aku tetap berharap debu-debu ini segera menghilang bersatu dengan tanah. After all, aku bersyukur kejadian ini ada karena aku dapat melatih diriku untuk melihat hal baik di balik hal yang dianggap buruk.
Image

Tips Mixing Gitar Bass

Image

Setelah sekian lama gak nulis akhirnya sekarang datang juga niat untuk nulis lagi. Hahaa. Mau share ilmu baru nih. Di kesempatan kali ini aku mau share ilmu per-Bass-an, hahahaa. Okay, here we go.

Bass itu adalah jantung dari musik. Gak jelas terlihat tapi mampu menghidupkan dengan alunan permainannya. Menganalogikan Bass sebagai sebuah jantung, berarti diperlukan sebuah kontrol agar musik itu enak terasa. Jantung yang sehat dengan detakan yang terkontrol menciptakan hidup yang sehat. Begitu juga dengan Bass. Cara mengontrol Bass?

Filtering First!

HPF dulu. Start-lah dari 50/60Hz. Biasanya dulu aku selalu HPF di sana. Tapi belakangan lebih suka di 80-100Hz. Why? There’s reason for this. Jadi untuk simulasi amp aku pake amplitube3. Untuk Bass biasanya aku pake Gallien-Krueger. Nah di sana ada tombol ‘Low-Cut’ nya which means it’ll remove the low-end. Aku coba pake setting itu dan agak heran karena low-end yang terkuras terbilang lebih dari 50/60Hz. Kemungkinan sih di 80-100Hz. So that’s why. Kenapa sih di HPF btw? Biar low-end nya gak lebay lah. Sekalian make it tight, bikin suaranya tambah kenceng dan padet. Mau tak analogikan? Seperti otot di perut. Semakin kencang dan padet semakin seksi kan? Prefer itu kan? Hahahaa :p

Trus LPF. Biasanya aku pasang di 4-6KHz. Bass juga alat musik coy, jangan pelit. Kasi dia bernafas. Ingat yang penting gak lebay :D

EQing Bass

Bayangin aja mainin kunci G dengan suara yang merdu terus pindah ke E tapi suaranya semrawut. Yaaakh! Ini lah salah satu dari Bass(dan juga alat musik yang lain) yang perlu diatur. EQ sebenarnya memang tergantung selera. 200-350Hz! Frekuensi yang menyebalkan! Bunyinya itu loh, bikin speaker serasa bengkak. Di sini Bass berantem sama vokal. Berilah mereka tempatnya masing-masing biar rukun dan sejahtera. Biasanya aku cut di sini sekitar 4-6Db. Jangan takut ng-cut (mutusin) kalo emang udah gak cocok. Hahaha. Lanjut! 800Hz-1.2KHz. Experts bilang sih di sini frekuensi yang memberi Bass sebuah definisi, sebuah karakter. Emang sih. Aku sering bercengkrama sama musik-musik cadas yang biasanya midtone gitarnya dikuras. Nah, Bass berperan ngasi midtone dan definisinya di sini. Next, 2-4KHz. Dengan amp yang settingan high-nya menunjukkan lebih dari pukul 12 malam, dan dengan dipadu sedikit cita rasa distorsi, frekuensi ini memberi Bass kekuatan untuk bersaing dengan gitar dan vokal. Boosting di sini ngasi untung Bass untuk musik cadas. Sekali-sekali boleh dong Bass unjuk gigi. Hehehee

Compressing Bass

Compression, wiiiiih kompresiii!!! Rasio kompresi untuk Bass biasanya di 2.5-4:1. Untuk threshold, set agar Bass kena kompresi di setiap beat-nya. Ya, Bass di musik modern selalu bersifat stabil. Di sini peranan attack dan release penting. Bass musik modern selalu dalam keadaan terkompres. Settingan yang biasa tak pake: attack di 15-30ms(tergantung seberapa banyak punch yang diinginkan), release di 80-200ms. Ingat, sebelum Bass kembali ke normal state (kondisi sebelum dia kena kompres)-nya dia harus udah kena kompres lagi.

Steps mengolah track Bass yang biasa aku pake: EQ(Cutting)-Compression-EQ(Boosting). EQ untuk boosting emang cocok dipake setelah kompresi. Kenapa? EQ pertama kan tujuannya ng-cut frekuensi yang gak diinginkan, trus compression nantinya memukul mundur semua frekuensi. Kalo EQ untuk boosting di-apply sebelum compression, berarti nanti waktu kena kompresi frekuensi-frekuensi yang udah diatur sedemikian rupa agar menonjol malah kepukul mundur dong? Got it? Hope so :D

Okay, mudah-mudahan tips tadi cukup berkenan dan berguna ya. Akhirnya atas nama segenap crew yang bertugas saya ucapkan terimakasih dan …

SAMPAI JUMPA! Ttteeettteeetteetttt(bunyi soundtrack penutup berita)

Huahahahaaa. Leave me commentsSee yaa, guys!

Cowok, harusnya

Sebelum membaca, aku sarankan pembaca berbaik hati untuk membuka pikiran dan berbesar hati karena tulisan ini mungkin membuat para pembaca kesal. Ini hanya curahan pikiran, sebuah persepsi. Manusia bebas berpikir, katanya. So let me think my own way. Here we go.

Laki-laki. Aku sering merasa kecewa, sedih, marah, kesal dsb melihat tingkah laki-laki. Ini bukan tentang laki-laki/cowok yang “melambai”. Aku gak pernah menyalahkan pilihan cowok menjadi seseorang yang sering dicap “banci” oleh kebanyakan orang. Justru kadang aku kagum karena mereka berani nentuin pilihannya, jalan hidupnya. Oke, enough about that. So what are we going to discuss in this page? Ini tentang cowok yang mengaku dirinya cowok.Image

Kata orang, cowok itu identik dengan kata macho, tegas, berani dan sebagainya yang bersifat maskulin. Tak heran banyak cowok yang sibuk ng-gym untuk mencari bentuk badan yang mereka inginkan: terlihat besar, kekar, powerful, and most importantly, macho. Terkesan sangar dan, tanpa diragukan lagi, berani. Tapi, apa iya?

Tulisan ini awalnya terinspirasi dari tayangan berita yang kulihat di TV. Aku lihat ada bentrok antar 1 desa dan desa tetangganya. Mereka membawa senjata; senapan angin, senjata tajam dan batu. Ya, mereka sibuk saling lempar batu. Ini mengingatkanku pada jaman SMA-ku, saat dimana seringkali aku menyaksikan temanku berduel 1 lawan 1, tanpa senjata, tanpa bantuan. Betapa jantannya mereka. Dan betapa memalukannya orang-orang desa yang kusebut tadi. Mereka tidak lebih hebat dari anak-anak SMA yang doyan berantem demi memperebutkan cewek. Bukan tawuran loh. Tawuran itu cuma buat pengecut. Kenapa? Karena beraninya keroyokan, karena beraninya saat bersama teman-teman.

Mungkin ada pembaca tulisan ini yang kemudian berpikir: “ini tulisan cuma mau ngomongin berantem ya?” No! absolutely no! a big NO! Berantem itu adalah salah satu tanda seseorang tak bisa menguasai emosi. Ya, emosi itu memang memberatkan pikiran. Tapi, bukankah sesuatu yang bersifat berat itu, katanya, tanggung jawab cowok? Jadi jika kita gak mampu menahan diri dari emosi, apa pantas kita disebut cowok? Terlebih lagi beraninya cuma saat beramai-ramai. Gimana? Is it knocked some senses?

Cowok itu harusnya jadi pemberani. Saat ada masalah, cowok harus maju ke depan hadapan masalahnya dengan jantan, tanpa perantara, tanpa basa-basi, tapi dengan otak. Cowok harusnya bisa menentukan apa yang terbaik untuknya. Gak perlu nanya: “terus ini gimana?” “terus nanti aku sama siapa?” “terus kalo nanti aku rugi/sakit/gak bisa, gimana?” Jawabannya: “Terserah!” Mau nantinya begini begitu, sakit, rugi, bahkan mati, terserah. Yang penting kita, cowok, harus berani nentuin pilihan. Takut resiko? Jangan jadi cowok! Takut maju sendiri? Go cry to your mommy! Resiko itu akan berbuah pengalaman. Itu yang akan mengasah kita. Jadi, berani ambil tantangan?

Cowok, kalo mengaku cowok, jadilah sosok yang berani dan tegas, dan pintar kalo memungkinkan. Kalo kamu punya pacar dan dia bertanya: “kita mau kemana hari ini?”, jawablah dengan tegas: “ke sini/ke situ” bukannya “terserah kamu, sayang.” Cewek itu perlu cowok untuk mimpin mereka. Jadi pimpinlah mereka. Tegaslah, hadapin masalahmu secara face-to-face, bikin keputusan, gak usah basa-basi karena kita bukan cewek, jantanlah. Cowok harusnya gitu.

Tak hanya tegas, cowok juga harus tegar. Aku jadi ingat salah satu sahabatku. Dia sebulan lalu putus dari seorang cewek setelah berpacaran lebih dari 3 tahun. Aku tahu betapa saling cintanya mereka dulu. Tapi tahu kah kalian apa yang dia bilang saat bercerita padaku? “besok aku cari yang baru.” That easy! Semudah itu! Iya betul, tegarlah seperti itu. Cowok itu harus seperti karang di tengah lautan yang berkata: “hantam aku, samudra!” Aku dan sahabatku ini sekarang sedang sendiri tanpa pacar. Beberapa kali kami disindir karena masih sendiri. Peduli amat! We have life to live. Gak cuma cewek. Kami gak mau nurunin standar. Kami gak mau terpaksa cari pacar cuma karena diejek, terlebih lagi kalo cuma untuk pemuasan kebutuhan si “adik”, hahahahaa.

Finally, wahai cowok, jadilah cowok tulen. Jangan banyak alasan, jangan takut. Itu saja.

Apa sih Bagusnya Musik Cadas?

“Apa sih bagusnya musik cadas? Seninya di mananya sih? Teriak-teriak parau gitu gimana caranya ngerti maksudnya?” Inilah kira-kira pertanyaan yang muncul jika kamu non-pecinta musik cadas disodorin musik cadas. Ya genre yang satu ini memang terdengar semrawut alias berantakan, asal keras, gak jelas dan nyakitin kuping. Musik-musik beraliran metal, hardcore, rock, punk ini memang agak susah diterima masyarakat luas karena tingkat kebisingannya yang luar biasa. Tampilan pecintanya pun terkesan garang dan seram seperti preman-preman terminal yang penuh tato dilengkapi kostum robek-robeknya. So, apa bagusnya?

Lagu cadas, bilanglah metal, jika kita lihat dari lirik-lirik dan ekspresi pembawaannya yang biasanya screaming alias teriak-teriak, lagu metal memiliki tema yang bisa kita generalisasikan sebagai bentuk kemarahan, iri, cemburu, kecewa, bete, bosan, merasa tertindas dan terlindas. Hei, ini tidak seluruhnya jelek. Apa salahnya mengekspresikan perasaan yang kesannya negatif? Ya, musik ini menurutku musik yang membuat pendengarnya merasa kuat dari rasa sedih, sakit, terkucilkan, down dan lain-lain. Aliran suaranya yang terkesan strong membuat pendengarnya merasa strong juga. Here’s a story: ada seseorang yang putus cinta karena diselingkuhi pacarnya. Di satu sisi dia bisa saja mendengarkan lagu-lagu sedih yang bertema “kenapa kamu tega seperti ini?”. Di sisi lain dia bisa menikmati kemarahannya melalui musik bernada “anj*ng gue ketipu! awas loe besok! awas!”. Solusi pertama kerap membuat perasaan menjadi down, solusi satunya biasanya menciptakan kemarahan pada perasaan yang kecewa. Ya, kalo kita dikecewain wajar saja kita marah bukannya merasa “apa salahkuuu?” Make sense kan?! Metal makes us strong! Apalagi buat cowok. Cowok harusnya bermental baja bukan tempe.

ImageImage

Lanjut ke permainan musiknya. “Apaan tuh pemain gitar rhythm-nya cuma palm-muting. Gak ada skillnya!” Hahahaa. Namanya juga “main” musik. Main=senang-senang. Kenapa harus repot-repot dan berpayah-payah pamer skill? Bermain musik seharusnya orientasinya “have fun/enjoy” bukannya berpikir ribet. Inilah bedanya antara penonton konser metal dan orkestra. Penikmat lagu keras pasti asik jingkrak-jingkrak, teriak-teriak, ber-moshing dalam circle pit. Mereka terbakar bersama alunan musik. Penonton orkestra cenderung menikmati nilai seni dari nada-nada musik yang lembut. Got it? Lagi pula ada juga kok musik keras yang skill nya canggih. Lihat saja om Synyster Gates atau Nick Hipa atau Mick Thomson. Mengingat 3 gitaris ini saya jadi wondering atraktifnya permainan drum Jordan Mancino, Joey Jordison dan almarhum James Sullivan. Coba deh sekali-sekali dengar atau nonton mereka di Youtube. Tuh, sakti kan?!

Image

Sungguh sayang sekali musik-musik ini susah mendapat sorotan publik, terlebih lagi di Indonesia. Musik-musik cadas sementara ini masih bernaung di festival musik cadas lokal. Yang mampu tembus ke publik biasanya lagu rock dan punk. Itu pun sudah dimodifikasi dengan tema cinta-cintaan. Seharusnya musik keras juga ditampilkan agar mental pria-pria bangsa ini lebih kuat lebih maco lebih garang lebih cowok! Maju terus musik cadas!

Gowes oh Gowes

Hari gini siapa sih yang gak tau gowes? Ya, kegiatan bersepeda ini adalah salah satu hobi yang menyenangkan dan menyehatkan. Semenjak menjadi sebuah trend di masyarakat, tak jarang banyak orang yang bela-belain beli sepeda buat ikutan gowes, dan ujung-ujungnya bosen sendiri karena sebenarnya mereka cuma kemakan trend. Tapi memang tidak bisa kita pungkiri hobi yang satu ini memang menyenangkan.

Namun, ada kala nya kami orang-orang yang non-gowes melihat orang-orang ini sebagai sesuatu yang membuat jalanan tambah ruwet. Kadang sepeda-sepeda itu seliweran tanpa aturan sehingga membuat para pengemudi kendaraan bermotor kerap kali jengkel dan keki. Para pecinta gowes yang biasa bergerombolan kadang membuat jalanan jadi macet dan tidak teratur. Belum lagi terkadang karena dalam sebuah gerombolan, orang-orang ini merasa kuat dan tidak takut ditabrak. Biasalah, rame-rame berlagak, sendiri gak nyali. Yah memang terkadang anak-anak gowes ini agak terlalu yaa..

However, tetapi, jangan salah sangka dulu. Saya hanya ingin mengingatkan: gowes memang kegiatan yang sangat menarik. Hobi ini memang sangat menyenangkan apalagi jika dilakukan bersama teman-teman. Tapi tetaplah saling menghormati pengguna jalan :)

Hal yang paling penting yang ingin saya sampaikan sebenarnya adalah bagaimana bermanfaatnya gowes bagi semua orang. Nah loo, gak kepikiran kn?! Emang nya gowes cuma ngayuh pedal dan teriak-teriak di jalan?! Hahaaa. Walaupun tidak mengikuti trend ini, saya paham betul dengan bersepeda gas-gas CO2 yang beredar di jalanan bisa kita kurangi. Polusi udara, polusi suara knalpot, polusi panas mesin otomatis berkurang. Hal inilah yang saya lihat sangat bermanfaat dari gowes ini. Maka dari itu saya seringkali mengalah untuk anak-anak ABG yang sibuk sepedaan bergerombolan di jalan. Saya tidak akan pernah meng-klakson mereka atau pun menghardik. Toh mereka bersenang-senang. Toh bumi kita tambah bersih dan segar. Toh kebaikan itu untuk kita bersama. So, appreciate them :D

Karma di Mataku

KARMA! aku jdi inget lirik nya asking alexandria: “Karma’s a bitch! Right?!” Jadi hari ini aku mau mencurahkan pemikiranku tentang karma. Mudah”an kawan pembaca gak tersinggung yaa sama pola pikirku.

Dulu waktu pelajaran agama, karma sering banget disebut. Orang-orang yang lagi badmood di twitter juga sering nge-tweet: “karma pasti berjalan!” Really? Yakin loe? Katanya juga karma yang kita dapatkan sekarang adalah hasil perbuatan kita dari kehidupan yang lalu. Masak sih?

Ada juga yang bilang: “Hari ini aku dijahatin dia. Suatu hari dia akan dijahatin orang. Karma itu berjalan!” What?! segampang itu kamu mau dijahatin orang trus ngbiarin dia dibales oleh orang lain. No no no. Dimana kepuasannya? Kalo gue lebih stuju:”Loe pukul gue, gue pukul loe. Kita IMPAS!” Nah itu baru aku puas. Bukan berarti aku yang orang suka balas dendam apa gimana. Tapi ini yang namanya adil. Dia ambil sesuatu dari kita, kita ambil sesuatu dari dia. Orang kalo baik sama kita pasti kita balas dengan bersikap baik juga kan? Ya seperti itu. Sama dengan orang kalo jahat sama kita, kita juga jahat sama dia. Kalo orang baik sama kita masak ya: “mudah-mudahan karmamu nanti membawa kebaikan nak”? Absolutely a big NO itu naa. Kalo aku ngasi fakir miskin uang 20.000, trus dia senyum ramah dan bilang “terimakasih” Nah ini baru adil. Bukannya gue ngasi 20.000 trus suatu hari gue menang undian BMW gara-gara karma yang baik, kagak nyambung naa!

Kamu jatuh dari motor bukan karena karma tapi, mungkin, kamu gak hati-hati. Kamu diputusin pacar bukan karena dulu kamu selingkuh demi dia tapi, mungkin, karena kamu punya kekurangan. Mikirlah yang logis. Semua ada alasannya, dan alasan itu gak semata-mata datang dari hal-hal yang berbau mitos gitu.

So that’s it. I just wanna say your logic, your brain, is better than that. Percayalah pada sesuatu yang beralasan, teori yang terbukti, hal-hal konkrit. Maaf kalo setelah membaca tulisan ini ada pihak yang tersinggung. Ini cuma pemikiranku sebagai seorang yang bebas berpikir terbuka. I’m a f**king free thinker!

Tips Mixing Drum Metal

Haiyaaah, lama gak ngepost. Seperti judulnya, kali ini aku mau share sedikit informasi tentang mixing drum untuk genre cadas! \m/ Mudah-mudahan bermanfaat bagi pembacanya.

Oke! Ada beberapa hal yang mesti kamu ketahui tentang mixing metal ini. Aku asumsikan kawan-kawan pembaca sudah tahu dan cukup mengerti istilah low, mid dan high. Jadi, metal itu Mid-Less banget. Frekuensi mid-nya drop. Sebaliknya, low dan high-nya extreme! Tapi ini lah yang menjadi salah satu kunci kesuksesan tone metal. Mid pada metal seringkali kita jumpai, umumnya, pada gitar bass. Sedangkan gitarnya bergerilya merebut sebagian besar frekuensi yang bisa didengar manusia(20Hz-20KHz) Hal ini terjadi juga pada drum.

Drum memegang peranan penting di musik beringas ini karena pada genre ini double-pedals adalah senjata utamanya yang unik. Karena drum adalah pondasi utama, jadi mix-lah drum dengan baik.(Bukan berarti yang lain boleh di-mix dengan gak baik loo, hahaa.)

Yang pertama, KICK! Biasanya kick menggunakan lebih dari satu mic untuk rekaman(tapi aku belum pernah belajar ke studio rekaman ya. Hahaa. Cuma modal informasi artikel-artikel, YouTube dan pengalaman bersama software.) Akan lebih mudah jika kita utak-atik bunyi kick bila semua hasil rekamannya kita blend jadi 1. Namun bisa juga gak usah di-blend biar lebih fleksibel. Oke, senjata pertama kita: EQ. Cut mid tone di area 300-500Hz karena di area ini ada frekuensi yang mengganggu. Kalo bule bilangnya wonky atau honky atau apa gitu, kalo gue bilangnya ‘otokotokotok’, hahaa. Eit, jangan pelit nge-cut yaa. Gak usah tanggung-tanggung, pangkas 9Db! Setelah cutting, kita boost area 70-100Hz untuk tenaga jedug-jedugnya. Nah, boost juga di area 3-4KHz dan 7-8KHz untuk ngedapetin click-nya. Click, click, click! Biasanya setelah itu aku kasi kompresi tipis. Rasio mungkin sekitar 2:1 dengan fast attack dan release. Attack 10ms release 50ms kira-kira cukuplah. Treshhold-nya yang penting ngompres 0-1,5 Db. Gak usah banyak-banyak. Hehe. At last, HiPassFilter di, biasanya sih, 50Hz. Ini bertujuan agar frekuensi sub-bass gak mengganggu.

Snare! Ya snare punya frekuensi es tung-tung di 300-500Hz, kasi mati sudah. Kekuatan snare ada di 180-250KHz, boost yaa. Boost-nya yang lebar, naikin pangkatnya kira-kira 5 Db-lah. Di area 2-6KHz kita bisa atur attacknya. Mau punchy atau warm, it’s uptoyou-lah. Tapi snare di metal identik dengan smack-nya yang keras. So, kamu sebaiknya cari sensasi punchy nya yang pas. Lalu: compression. Di sini akulanjut pake compression untuk tinjuan mautnya dengan settingan yang mirip dengan kick tadi tapi attack-nya lebih cepet, releasenya tambah dikit, jadi pukulan snare-nya bersatu dengan room mic: menggelegar!

Continue. Toms. Ada trik dari YouTube yang bilang: “Wide cut your toms at about 600Hz.” Menurutku cut di 500 aja. Q-nya agak lebar yaa. Trus, seperti snare tadi, kontrol smack-nya yang bisa kita temui di 2-6 KHz. Jangan lupa hipass. HPF di 70Hz. Semakin kecil tom-nya semakin perlu dinaikin HPF nya. Jangan lupa juga: compression. Rasio, attack, release-nya samain sama kick aja biar sinkron. Got it? got dong. Hehee.

Lanjut! Overheads. Pan mereka 100persen kiri-kanan. Trus HiPassFilter di seputaran 400Hz. EQ simbal-simbal itu dengan meng-cut di area bisingnya(kalo memang bising, sih). Biasanya di area 7KHz. Lalu, 2,5KHz entah buat apa, tapi menurutku area itu cukup ‘sesuatuk’. Optional deh. O, iya. Untuk overheads, EQ-nya jangan lebay seperti kick tadi. Yah 2-4 Db cukuplah. Dan lagi, kompresi. 5:1, fast attack, slow release. OK?

Untuk Hi-Hats HPF <500Hz. Boleh nego sih kalo mau suaranya lebih berisi. Haha. Ada frekuensi Hi-Hats di 700-900Hz yang perlu sedikit di-cut karena mengganggu midrange yang seharusnya merupakan definisi dari vokal/bass/gitar. Sisanya kurang lebih sama dengan simbal.

Yah yang terakhir adalah Room/AmbeyenAmbience. Kompres dulu pake rasio 3:1. Attack-nya agak cepet, Release-nya menyesuaikan snare(misalnya mau bikin bunyi snare-nya besar dan menyebar). Trus cut di sekitaran 400Hz. Menurutku ng-cut disini lumayan ngasi space untuk kick. Ini tergantung taste sih. Terserah anda menyingkapinya. Hehe. O, iya men! Untuk metal, porsi volume room ini umumnya cukup kecil diantara kawanan drum lainnya. Jadi, turunin dikit fader volume room di DAW-mu.

Done! Mudah-mudahan berkenan dan bermanfaat ya. Please feel free to leave comments, biar kita bisa sama-sama belajar. Sekarang saya harus kuliah. See yaa :D

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.